SEBUAH korelasi yang indah antara firman Allah,“kami tidak mengutusmu (wahai muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam,” (Al-Anbiya:107) dengan sabda Rasul,“sungguh, Aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak” (HR imam malik,no.1723). Bayangkan jika kecurangan, tipu daya, dan kejahatan merajalela dalam masyarakat atau rasa benci, dendam, dan dengki meliputi sebuah keluarga, dimanakah rahmat itu berada? maka tidak ada rahmat bagi alam semesta kecuali dengan akhlak. Bahkan hasil dari ibadahpun seharusnya adalah untuk membenahi akhlak. Kalau tidak, maka ibadah tersebut hanya akan jadi semacam olah raga saja.
Allah berfirman,“Dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat mencegahmu dari perbuatan keji dan mungkar” (Al-Ankabut:45). Dalam hadist qudsi Allah juga berfirman,“Aku hanya menerima shalat dari orang yang dengannya ia tawadhuk pada keagunganKu, tidak menyakiti makhlukKu, berhenti bermaksiat padaKu, melewati siang dengan zikir padaKu, serta mengasihi fakir, orang yang sedang berjuang dijalanKu, para janda, dan orang yang tertimpa musibah.” Bukankah Allah sendiri yang mengajarkan agar ibadah (shalat) itu diikuti dengan perbaikan akhlak (tawadhuk dan kasih sayang)?. Subhanallah, jika selama ini shalat tidak membuat kita memiliki rasa kasih sayang terhadap sesama berarti shalat kita tidak menghasilkan buahnya secara sempurna.
Kemudian dalam surat At-Taubah ayat 103, allah berfirman, “ambillah zakat dari sebagian harta mereka untuk membersihkan dan menyucikan mereka”. Tujuan dari berzakat adalah Allah ingin mendidik akhlak yang baik pada manusia (menyucikan). Orang-orang yang berzakat akan belajar mengasihi dan bermurah hati. Lebih lanjut nabi bersabda,“senyummu dihadapan saudaramu adalah sedekah. Amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah sedekah, menunjukkan jalan untuk seseorang yang tersesat adalah sedekah, menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu adalah sedekah, menyingkirkan gangguan dijalan adalah sedekah, menuntun orang buta adalah sedekah, dan sedekah yang paling utama adalah sesuap makanan yang kau berikan pada istrimu.” (HR Muslim no. 2700 dan Ibn Majah no. 1691). Demikianlah ibadah mengalir menuju akhlak.
“Jika kalian sedang berpuasa, jangan berbuat kotor dan membentak. Jika dimaki atau diajak berkelahi, katakanlah ‘aku sedang berpuasa’.” Kata Nabi (HR Muslim). Nabi mengajarkan bahwa hari dimana kita sedang berpuasa adalah hari akhlak, hari dididik untuk tidak berbuat fasik, mencela, menyakiti, dan seterusnya.
Dan akhlak mencapai puncaknya dalam ibadah haji. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 197, “Haji adalah beberapa bulan yang telah diketahui. Siapa yang menetapkan niat dalam bulan itu untuk mengerjakan haji maka tidak boleh berbuat kotor, fasik, dan berbantah-bantahan dalam masa haji.” Saat melaksanakan haji kita akan tinggal disana selama beberapa hari dengan latihan pendisiplinan akhlak yang cukup berat. Kita tidak dibenarkan bersuara keras, tidak boleh memaki, mencela orang lain, apalagi menganiaya. Pesan puncak pendisiplinan akhlak disini sangat jelas, “wahai jama’ah, dalam kondisi yang sangat padat seperti itu, tunjukkanlah akhlakmu. Lalu saat engkau kembali setelah berlatih berakhlak baik dengan jutaan orang selama berhari-hari, bukankah layak engkau berbuat baik dengan orang tuamu, istri/suamimu, kerabat, dan tetanggamu?.”
Tujuan memperbaiki akhlak adalah untuk menghilangkan kesenjangan antara akhlak dan ibadah. Orang yang sangat amanah dan jujur tetapi tidak mengerjakan shalat atau sebaliknya seseorang yang sangat tekun beribadah tapi buruk akhlaknya, tidak dibenarkan dalam Islam. Rasul bersabda, “Demi allah tidak beriman, orang yang tetangganya merasa tidak aman dari keburukannya.” (HR muslim no.170). Jika ada wanita yang menjemur cucian yang masih basah lalu bekas airnya berjatuhan di atas cucian tetangga yang dibawahnya, maka ia terkena hadist ini apalagi yang lebih dari itu. Islam mengajarkan untuk tidak memisahkan antara agama dan akhlak. Sehingga tidak kita tidak menjadi orang yang ibadahnya mengagumkan tetapi akhlaknya sangat jauh dari Islam atau sebaliknya.
Rasulullah menambahkan, “Iman memiliki lebih dari 70 cabang, yang paling tinggi adalah mengucapkan laa ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dijalan.”(HR Bukhari no.9). Ya Allah.. jika menyingkirkan gangguan di jalan saja termasuk bagian dari iman, lalu bagaimana dengan kita membuang sampah atau sisa makanan dijalan? Apakah kita sempat berfikir bahwa sikap itu dapat melenyapkan sebagian iman?. Maha suci Allah, bahkan Islam menunjukkan hubungan yang erat antara iman dan akhlak.
Rasulullah juga bersabda,”Demi yang mengutus aku dengan hak, Allah tidak akan menyiksa orang yang mengasihi dan menyayangi anak yatim, berbicara kepadanya dengan lembut dan mengasihi keyatiman serta kelemahannya, dan tidak bersikap angkuh dengan apa yang Allah anugerahkan kepadanya terhadap tetangganya. Demi yang mengutus aku dengan hak, Allah tidak akan menerima sedekah seorang yang mempunyai kerabat keluarga yang membutuhkan santunannya sedang sedekah itu diberikan kepada orang lain. Demi yang jiwaku dalam genggamanNya, ketahuilah, Allah tidak akan memandangnya (memperhatikannya) kelak pada hari kiamat." (HR. Ath-Thabrani)
‘Ala Kulli Hal, niat memperbaiki akhlak haruslah untuk memperoleh cinta allah dan rasulNya. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasul, siapakah hamba yang paling dicintai Allah?” beliau menjawab, “Yang paling baik akhlaknya.” (HR Ibn Majah no. 3436). Dalam hadist lain, Rasul juga bersabda, “orang yang paling ku cintai dan yang paling dekat denganku adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR at-Tirmidzi no 2018). Adakah yang lebih tinggi dari cinta Allah dan rasulNya?.
Di antara doa Nabi adalah sebagai berikut,“Ya Allah, berikanlah aku petunjuk kepada akhlak yang paling baik, tidak ada yang bisa memberi petunjuk kepadanya kecuali Engkau.” Subhanallah, Rasulullah masih mengucapkan doa ini, padahal Allah berkata,“Engkau (Muhammad) sungguh mempunyai akhlak yang agung.”(Al-Qalam:4). Semoga kita juga diberi kemampuan untuk meneladani akhlak beliau, amin.
Diadaptasi dari Dr. Amr Khaled “Buku Pintar Akhlak”
READ MORE - Ibadah dan Akhlak 'Saling Bercermin'