Minggu, 27 Mei 2012

Quality Time VS Quantity Time


"BERSAMA anak dan keluarga itu yang penting quality timenya bukan quantitynya”, kata seorang ibu-ibu publik figur yang sehari-harinya memang sibuk di luar rumah, syuting dan sebagainya. Ibu itu sedang mencoba menjelaskan pentingnya kualitas waktu, bukan jumlah waktu yang dihabiskan bersama anaknya. Dalam tayangan tersebut sang ibu sedang mengajak anaknya liburan di sebuah taman bermain.

Saya sejak dulu kurang setuju jika yang dimaksud dengan waktu berkualitas hanya sebatas waktu bermain seperti yang dilakukan si ibu itu. Mungkin ada benarnya jika yang dimaksud adalah kegiatan positif yang dilakukan orang tua bersama anaknya dalam rangka mendidik. Saya pribadi berpendapat, kualitas dan kuantitas kebersamaan, khususnya dengan anak, dua-duanya penting.

Menurut saya, keberadaan orang tua, khususnya sang ibu, dalam menanamkan nilai-nilai pada anak itu sangat penting. Saya ingat betul wejangan sang guru, “masa kanak-kanak adalah masa pembentukan untuk mengenal yang benar dan salah. Mereka ibarat kertas putih, torehan pertama kali ini sangat menentukan. Lalu dunia remaja adalah masa pancaroba. Harus betul-betul dijaga, terus menerus diingatkan biar ga lupa, masanya mereka sangat ingin diperhatikan, diakui, dijadikan sahabat.”

Dan sekarang, setelah sering 24 jam bersama anak-anak, saya merasa berada di dua posisi tersebut, sebagai anak sekaligus sebagai orang tua. Sebagai anak, saya tentunya telah melewati tahap apa yang sedang mereka rasakan sekarang. Sebagai orang tua, saya merasakan bagaimana membimbing para remaja melewati masa pancarobanya. Benar-benar harus hati-hati ketika ‘memvonis’ seorang anak ‘bandel’. karena kata ‘bandel’ sendiri sebenarnya umum. Ada anak-anak yang memang malas, ada juga yang sebenarnya bukan bandel tapi rasa ingin tahunya yang tinggi hingga dia melakukan hal-hal yang tidak dikerjakan teman-temannya. Yang lainnya lebih karena masa remaja adalah masa ingin diperhatikan.

Saya menemukan bahwa anak-anak yang dianggap “bandel” ini sebenarnya ingin mendapat perhatian lebih. Umumnya karena bermasalah dalam keluarganya, mulai dari orang tua yang sibuk, hingga masalah perceraian orang tua. Bahkan secara psikologi, anak-anak ini lebih senang dimarahi dari pada didiamkan. Walaupun tentu saja tidak semua kelakuan anak bisa dinisbatkan pada orang tuanya. Wallahu ‘alam
READ MORE - Quality Time VS Quantity Time

Minggu, 13 Mei 2012

Ibadah dan Akhlak 'Saling Bercermin'

SEBUAH korelasi yang indah antara firman Allah,“kami tidak mengutusmu (wahai muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam,” (Al-Anbiya:107) dengan sabda Rasul,“sungguh, Aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak” (HR imam malik,no.1723). Bayangkan jika kecurangan, tipu daya, dan kejahatan merajalela dalam masyarakat atau rasa benci, dendam, dan dengki meliputi sebuah keluarga, dimanakah rahmat itu berada? maka tidak ada rahmat bagi alam semesta kecuali dengan akhlak. Bahkan hasil dari ibadahpun seharusnya adalah untuk membenahi akhlak. Kalau tidak, maka ibadah tersebut hanya akan jadi semacam olah raga saja.

Allah berfirman,“Dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat mencegahmu dari perbuatan keji dan mungkar” (Al-Ankabut:45). Dalam hadist qudsi Allah juga berfirman,“Aku hanya menerima shalat dari orang yang dengannya ia tawadhuk pada keagunganKu, tidak menyakiti makhlukKu, berhenti bermaksiat padaKu, melewati siang dengan zikir padaKu, serta mengasihi fakir, orang yang sedang berjuang dijalanKu, para janda, dan orang yang tertimpa musibah.” Bukankah Allah sendiri yang mengajarkan agar ibadah (shalat) itu diikuti dengan perbaikan akhlak (tawadhuk dan kasih sayang)?. Subhanallah, jika selama ini shalat tidak membuat kita memiliki rasa kasih sayang terhadap sesama berarti shalat kita tidak menghasilkan buahnya secara sempurna.

Kemudian dalam surat At-Taubah ayat 103, allah berfirman, “ambillah zakat dari sebagian harta mereka untuk membersihkan dan menyucikan mereka”. Tujuan dari berzakat adalah Allah ingin mendidik akhlak yang baik pada manusia (menyucikan). Orang-orang yang berzakat akan belajar mengasihi dan bermurah hati. Lebih lanjut nabi bersabda,“senyummu dihadapan saudaramu adalah sedekah. Amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah sedekah, menunjukkan jalan untuk seseorang yang tersesat adalah sedekah, menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu adalah sedekah, menyingkirkan gangguan dijalan adalah sedekah, menuntun orang buta adalah sedekah, dan sedekah yang paling utama adalah sesuap makanan yang kau berikan pada istrimu.” (HR Muslim no. 2700 dan Ibn Majah no. 1691). Demikianlah ibadah mengalir menuju akhlak.

“Jika kalian sedang berpuasa, jangan berbuat kotor dan membentak. Jika dimaki atau diajak berkelahi, katakanlah ‘aku sedang berpuasa’.” Kata Nabi (HR Muslim). Nabi mengajarkan bahwa hari dimana kita sedang berpuasa adalah hari akhlak, hari dididik untuk tidak berbuat fasik, mencela, menyakiti, dan seterusnya.

Dan akhlak mencapai puncaknya dalam ibadah haji. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 197, “Haji adalah beberapa bulan yang telah diketahui. Siapa yang menetapkan niat dalam bulan itu untuk mengerjakan haji maka tidak boleh berbuat kotor, fasik, dan berbantah-bantahan dalam masa haji.” Saat melaksanakan haji kita akan tinggal disana selama beberapa hari dengan latihan pendisiplinan akhlak yang cukup berat. Kita tidak dibenarkan bersuara keras, tidak boleh memaki, mencela orang lain, apalagi menganiaya. Pesan puncak pendisiplinan akhlak disini sangat jelas, “wahai jama’ah, dalam kondisi yang sangat padat seperti itu, tunjukkanlah akhlakmu. Lalu saat engkau kembali setelah berlatih berakhlak baik dengan jutaan orang selama berhari-hari, bukankah layak engkau berbuat baik dengan orang tuamu, istri/suamimu, kerabat, dan tetanggamu?.”

Tujuan memperbaiki akhlak adalah untuk menghilangkan kesenjangan antara akhlak dan ibadah. Orang yang sangat amanah dan jujur tetapi tidak mengerjakan shalat atau sebaliknya seseorang yang sangat tekun beribadah tapi buruk akhlaknya, tidak dibenarkan dalam Islam. Rasul bersabda, “Demi allah tidak beriman, orang yang tetangganya merasa tidak aman dari keburukannya.” (HR muslim no.170). Jika ada wanita yang menjemur cucian yang masih basah lalu bekas airnya berjatuhan di atas cucian tetangga yang dibawahnya, maka ia terkena hadist ini apalagi yang lebih dari itu. Islam mengajarkan untuk tidak memisahkan antara agama dan akhlak. Sehingga tidak kita tidak menjadi orang yang ibadahnya mengagumkan tetapi akhlaknya sangat jauh dari Islam atau sebaliknya.

Rasulullah menambahkan, “Iman memiliki lebih dari 70 cabang, yang paling tinggi adalah mengucapkan laa ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dijalan.”(HR Bukhari no.9). Ya Allah.. jika menyingkirkan gangguan di jalan saja termasuk bagian dari iman, lalu bagaimana dengan kita membuang sampah atau sisa makanan dijalan? Apakah kita sempat berfikir bahwa sikap itu dapat melenyapkan sebagian iman?. Maha suci Allah, bahkan Islam menunjukkan hubungan yang erat antara iman dan akhlak.

Rasulullah juga bersabda,”Demi yang mengutus aku dengan hak, Allah tidak akan menyiksa orang yang mengasihi dan menyayangi anak yatim, berbicara kepadanya dengan lembut dan mengasihi keyatiman serta kelemahannya, dan tidak bersikap angkuh dengan apa yang Allah anugerahkan kepadanya terhadap tetangganya. Demi yang mengutus aku dengan hak, Allah tidak akan menerima sedekah seorang yang mempunyai kerabat keluarga yang membutuhkan santunannya sedang sedekah itu diberikan kepada orang lain. Demi yang jiwaku dalam genggamanNya, ketahuilah, Allah tidak akan memandangnya (memperhatikannya) kelak pada hari kiamat." (HR. Ath-Thabrani)

‘Ala Kulli Hal, niat memperbaiki akhlak haruslah untuk memperoleh cinta allah dan rasulNya. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasul, siapakah hamba yang paling dicintai Allah?” beliau menjawab, “Yang paling baik akhlaknya.” (HR Ibn Majah no. 3436). Dalam hadist lain, Rasul juga bersabda, “orang yang paling ku cintai dan yang paling dekat denganku adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR at-Tirmidzi no 2018). Adakah yang lebih tinggi dari cinta Allah dan rasulNya?.

Di antara doa Nabi adalah sebagai berikut,“Ya Allah, berikanlah aku petunjuk kepada akhlak yang paling baik, tidak ada yang bisa memberi petunjuk kepadanya kecuali Engkau.” Subhanallah, Rasulullah masih mengucapkan doa ini, padahal Allah berkata,“Engkau (Muhammad) sungguh mempunyai akhlak yang agung.”(Al-Qalam:4). Semoga kita juga diberi kemampuan untuk meneladani akhlak beliau, amin.

Diadaptasi dari Dr. Amr Khaled “Buku Pintar Akhlak”
READ MORE - Ibadah dan Akhlak 'Saling Bercermin'

Rabu, 02 Mei 2012

Identitas


SAAT seseorang terluka dipinggir jalan, orang-orang yang membantunya biasanya mencari identitas atau nomor yang bisa dihubungi agar bisa memberi tahu keluarga korban. di sisi lain, para polisi yang merazia kendaraan dijalan menahan beberapa orang yang tidak memiliki identitas. Ya..itulah identitas, hanya mereka yang memiliki identitaslah yang akan dikenal. Ketika mendengar kata Bali, misalnya kita mungkin membayangkan Pantai Kute atau budaya masyarakat Hindu. Jokja dikenal dengan seni dan keratonnya.

Lalu apa identitas kita sebagai muslim? Sebagai muslimah?. Tentu yang kita maksud disini bukan hanya apa yang terlihat, tapi identitas dalam berbusana muslimah sekaligus tercermin dalam akhlak. Namun identitas tersebut hari ini menjadi realita yang terlupa, atau mungkin sadar tapi telah melenceng jauh dari jalurnya. Anak-anak muda misalnya lebih gandrung berpenampilan ala Boy Band, padahal itu adalah identitas yang dibawa anak-anak muda Korea saat ini. Bukankah Rasul mengatakan, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”. (HR Abu Daud, no. 4031)

Allah berfirman,“Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (Al-Ahzab: 21). Ya ibadah yang beriringan dengan akhlak, itulah identitas muslim. Pembahasan tentang akhlak ini sangat luas, bukan hanya dengan sesama manusia tapi juga kepada seluruh alam. Bukankah Rasulullah diutus sebagai rahmat bagi alam semesta?. Kitalah sebagai muslim akan meneruskan tongkat estafet akhlak Nabi ini, agar dunia merasakan bahwa Islam benar-benar rahmatan lil ‘alamin.

Ketika saat ini Islam diidentikkan dengan kata kumuh, kotor, bodoh, dan miskin, jangan buru-buru menyalahkan mereka. Menurut saya, ini justru jadi suatu ‘cambuk’ introspeksi bagi diri kita sendiri. Siapa yang membuat identitas Islam buruk rupa? kita sendiri. Mungkin begitulah wajah Islam yang kita perkenalkan pada dunia. Kesadaran pada identitas yang Allah ingin kita tampilkan akan menuntun kita ke arah yang baik. Sadar bahwa kita manusia akan menuntun kita memanfaatkan berbagai karunia Allah untuk mengabdi padaNya dengan mengamalkan Al-Quran dan As-Sunnah.

Saya teringat, saat kuliah dulu kakak-kakak dan abang-abang sering sekali saling mengingatkan saat kumpul bersama di kampus, “jaga nama Aceh, apapun (baik atau buruk) yang kita lakukan di sini orang tak akan menyebut nama kita, mereka akan mengatakan itu anak Aceh.” Pesan tersebut membekas erat diingatan kami. Jika rasa ingin melindungi daerah tercinta saja bisa menjadi hijab agar tidak berbuat buruk, apalagi rasa takut dan malu pada allah? Wallahu ‘Alam

Ya rabb, sungguh saya takut, menyadari bahwa mungkin sayalah salah satu dari orang-orang yang membuat coreng di wajah Islam dengan kelakuan, perkataan, dan tingkah laku yang mungkin belum menunjukkan identitas agama rahmatan lil ‘alamin ini. :(

READ MORE - Identitas