Rabu, 02 Mei 2012
Identitas
SAAT seseorang terluka dipinggir jalan, orang-orang yang membantunya biasanya mencari identitas atau nomor yang bisa dihubungi agar bisa memberi tahu keluarga korban. di sisi lain, para polisi yang merazia kendaraan dijalan menahan beberapa orang yang tidak memiliki identitas. Ya..itulah identitas, hanya mereka yang memiliki identitaslah yang akan dikenal. Ketika mendengar kata Bali, misalnya kita mungkin membayangkan Pantai Kute atau budaya masyarakat Hindu. Jokja dikenal dengan seni dan keratonnya.
Lalu apa identitas kita sebagai muslim? Sebagai muslimah?. Tentu yang kita maksud disini bukan hanya apa yang terlihat, tapi identitas dalam berbusana muslimah sekaligus tercermin dalam akhlak. Namun identitas tersebut hari ini menjadi realita yang terlupa, atau mungkin sadar tapi telah melenceng jauh dari jalurnya. Anak-anak muda misalnya lebih gandrung berpenampilan ala Boy Band, padahal itu adalah identitas yang dibawa anak-anak muda Korea saat ini. Bukankah Rasul mengatakan, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”. (HR Abu Daud, no. 4031)
Allah berfirman,“Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (Al-Ahzab: 21). Ya ibadah yang beriringan dengan akhlak, itulah identitas muslim. Pembahasan tentang akhlak ini sangat luas, bukan hanya dengan sesama manusia tapi juga kepada seluruh alam. Bukankah Rasulullah diutus sebagai rahmat bagi alam semesta?. Kitalah sebagai muslim akan meneruskan tongkat estafet akhlak Nabi ini, agar dunia merasakan bahwa Islam benar-benar rahmatan lil ‘alamin.
Ketika saat ini Islam diidentikkan dengan kata kumuh, kotor, bodoh, dan miskin, jangan buru-buru menyalahkan mereka. Menurut saya, ini justru jadi suatu ‘cambuk’ introspeksi bagi diri kita sendiri. Siapa yang membuat identitas Islam buruk rupa? kita sendiri. Mungkin begitulah wajah Islam yang kita perkenalkan pada dunia. Kesadaran pada identitas yang Allah ingin kita tampilkan akan menuntun kita ke arah yang baik. Sadar bahwa kita manusia akan menuntun kita memanfaatkan berbagai karunia Allah untuk mengabdi padaNya dengan mengamalkan Al-Quran dan As-Sunnah.
Saya teringat, saat kuliah dulu kakak-kakak dan abang-abang sering sekali saling mengingatkan saat kumpul bersama di kampus, “jaga nama Aceh, apapun (baik atau buruk) yang kita lakukan di sini orang tak akan menyebut nama kita, mereka akan mengatakan itu anak Aceh.” Pesan tersebut membekas erat diingatan kami. Jika rasa ingin melindungi daerah tercinta saja bisa menjadi hijab agar tidak berbuat buruk, apalagi rasa takut dan malu pada allah? Wallahu ‘Alam
Ya rabb, sungguh saya takut, menyadari bahwa mungkin sayalah salah satu dari orang-orang yang membuat coreng di wajah Islam dengan kelakuan, perkataan, dan tingkah laku yang mungkin belum menunjukkan identitas agama rahmatan lil ‘alamin ini. :(
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar