SEDIKIT menyinggung bahasan sebelumnya tentang kualitas dan kuantitas waktu, menurut saya pribadi, waktu berkualitas (quality time) ada di jumlah waktu (quantity time) itu sendiri. 24 jam sehari sejak mereka lahir, kanak-kanak, remaja, dan dewasa. Bukankah orang tua adalah role contoh teladan bagi anak-anaknya? Bahkan seorang ibu adalah pendidik pertama, guru yang melebihi guru manapun, sekolah yang tak pernah libur. Lalu, bagaimana seorang ibu akan membentuk anak-anaknya, jika kualitas waktu yang dimaksud hanyalah sisa-sisa hari setelah lelah bekerja diluar rumah sepanjang hari atau sisa-sisa weekend dalam seminggu?.
Saya tidak mengatakan para ibu tidak boleh membantu keuangan suami mereka atau tidak melakukan pekerjaan rumah sama sekali selain merawat anaknya, masalah membagian waktu bukanlah persoalan yang kita bahas disini. Tapi, kalau niatnya adalah membantu, ada banyak hal yang bisa dikerjakan dirumah yang juga menghasilkan uang tanpa harus seharian berada di luar rumah. Pada dasarnya tugas seorang ibu sangat mulia, jauh lebih besar dari pada sekedar mencari uang. Para ibu menyelamatkan dunia dari kerusakan moral dengan mendidik anak-anaknya, mendidik generasi berakhlak mulia.
Seorang penyair berkata:
ibu adalah madrasah jika kamu menyiapkannya
Maka dia akan menyiapkan generasi berkarakter baik,
Apabila para ibu tumbuh dalam ketidaktahuan
Maka anak-anak akan menyusu kebodohan dan keterbelakangan.
Beberapa wanita di negara barat bahkan gencar menyuarakan pentingnya menjadi ibu rumah tangga setelah mereka merasakan pahitnya resiko dari meninggalkan anak-anak dengan keluar rumah. Mereka mengakui nilai-nilai positif dari seruan Islam kepada para wanita agar tetap di rumah. Adakah ibu muslimah mengambil pelajaran?
Proses pendidikan ini bahkan di mulai sejak anak masih berupa janin. Para ahli mengatakan, ketika janin berusia 4,5 bulan dalam kandungan ibunya, indra pendengarannya telah sempurna menangkap suara-suara yang dihasilkan dari dalam tubuh sang ibu. Tak heran jika kemudian kita mendengar kisah para sahabat seperti Imam Syafi’i yang sejak kecil beliau diasuh dan dibesarkan oleh ibunya sendiri, dalam usia 9 tahun sudah menghafal seluruh isi Al-Qur’an dengan lancar. Atau seperti Imam At-Thabari yang telah menghafal Al-Quran ketika berumur 7 tahun dan memulai pencatatan hadits sejak usia 9 tahun. Sejak kecil mereka sudah gigih menuntut ilmu dan merenungkan kejadian-kejadian yang ada disekelilingnya sehingga hatinya peka terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah. Semua ini tak mungkin lepas dari peran orang tua, khususnya ibu.
Itulah sebabnya, saat hamil seorang wanita harus menjaga kondisi emosionalnya serta dianjurkan untuk menjaga ucapan, pandangan, pendengaran, dan makanan disamping juga menjaga kesehatannya. Para ibu sebaiknya membiasakan memperdengarkan Alquran pada anaknya sejak dalam kandungan, hingga ketika lahir sang anak menjadi peka ketika mendengar alquran karena telah terbiasa.
Terus berlanjut ketika para bayi itu beranjak menjadi kanak-kanak, Masa ini adalah masa pembentuka dimana orang tua mengajarkan mereka untuk mengerti mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak. Kebiasaan-kebiasaan baik seperti kedisiplinan, meletakkan mainan, membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan, membantu pekerjaan rumah, dan lain-lain diajar sejak usia ini. Terkesan seperti pelajaran PPKN yak,,hehe.. tapi hal ini bisa dibentuk dengan pengawasan terus menerus dari seorang ibu. Kebiasaan menghibur anak dengan televisi ketika menangis atau membiarkan mereka sepanjang hari bergantung pada tivi dan HP tanpa pengawasan adalah bahaya besar, karena mereka akan belajar pada benda tersebut. Menganggap idola dan teladan mereka ada disana. Lupa pada keteladanan yang diwariskan para Nabi dan Sahabat.
Di usia remaja, pengawasan mereka mungkin berbentuk kedekatan orang tua dengan anak. Di usia ini mereka membutuhkan ‘sahabat’ yang nyaman untuk berbagi banyak hal (curhat). Kita tentu tak ingin para remaja ini mengambil saran dari pergaulan yang merusak. Baik Rasulullah maupun para Imam Maksum Ahlul Bait dalam banyak kesempatan menekankan untuk memilih sahabat dan kawan dengan benar. Rasul bersabda, “Manusia beragama seperti sahabatnya, Karena itu, hendaknya dia teliti dengan siapa dia menjalin persahabatan.” Hadis ini menerangkan sejauh mana pengaruh seorang kawan sehingga bisa mempengaruhi keberagamaan sahabatnya. Bahkan Allah juga menegaskan, "Pada hari itu orang yang zalim menggigit tangannya (jari) dengan penuh penyesalan sambil berkata alangkah baiknya kalau aku dahulu menurut ajaran Rasul Allah. Wahai alangkah baiknya kalau aku tidak menjadikan si anu sebagai sahabat karib. Ia telah menyesatkan aku dari mengingati pesanan (Allah) setelah peringatan itu datang. Memang syaitan akan melepaskan diri dari kejahatannya terhadap manusia." (Al-Furqan: 27-29)
Allah berfirman dalam surat al-Zukhruf:67, “Pada hari kiamat kelak) orang yang bersahabat saling bermusuhan di antara satu sama lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa." Rasul juga mengingatkan bahwa, "Seseorang itu dikenali berdasarkan sahabatnya, maka berwaspadalah / bersikap bijaksanalah dalam memilih sahabat." (Riwayat Ahmad). Dalam hal ini peran orang tua sangat dibutuhkan. khususnya ibu yang selalu berada dekat dengan anak-anaknya, membimbing mereka agar mampu menjaga diri dalam pergaulan serta memilih sahabat dan lingkungan yang baik. Ini bukan berarti para remaja lalu dilarang bergaul, hanya saja di usia pancaroba ini para remaja perlu diiingatkan, diarahkan, dirangkul, dan diperlakukan seperti seorang ‘sahabat’. Hingga saat mereka membutuhkan orang lain untuk mendengarkan curhat atau keluh kesahnya, mereka tahu di rumah ada sang ibu penuh kasih sayang yang siap mendengarkan dan memberi saran yang baik.
Membiarkan mereka seharian di warnet atau main Play Station di rumah adalah bahaya besar. Membiarkan mereka bersenang-senang sepanjang hari tanpa didikan pemahaman agama yang benar, tanpa belajar kedisiplinan dan kerja keras, tanpa penjelasan tentang makna hidup, tanpa pendampingan dimasa pencarian jati dirinya, sama saja dengan membiarkan mereka tersesat di kemudian hari. Kita tentu tak ingin biarkan anak-anak terlalu lama mengenal Rabbnya.
Karena itu, Ibu adalah “madrasatun ula”, pendidik pertama dari awal pembentukan hingga dewasa. Sejak kecil mereka memperkenalkan Allah pada anak-anaknya, terus menerus mengingatkan mereka hingga tertanam kuat sampai dewasa dan menjadi pelita dalam kehidupan anak-anak mereka selanjutnya. Wallahu ‘alam
------------------------------------------------------------------------------------
"Ya Rabb, segala shalat dan puasa kami yang Engkau terima dan Engkau berkahi, segala zakat dan sedekah kami yang Engkau terima dan Engkau berkahi, serta segala amal kami yang akan engkau beri balasan kebajikan, berikanlah balasan bagi orang tua kami dengan yang lebih besar dari pada yang kami terima, jadikanlah kami orang2 yang selalu melaksanakan perintahMu agar balasan untuk kedua orang tua kami Engkau lipat gandakan lebih dari apa yang kami lakukan untuk mereka dan untuk diri kami sendiri, sayangilah mereka ya rabb melebihi kasih sayang mereka kepada kami di waktu kecil, amin”
