SEPERTI biasa euphoria saat euro terasa dimana-mana, para pemain siap berlaga dengan persiapan prima demi membela negara masing-masing. Para football mania pun tak kalah hebohnya. Ibarat permainan, begitu pula dalam kehidupan, ada yang memilih menjadi pemain dan ada pula yang hanya menjadi penonton.
Hidup adalah pilihan, dan setiap pilihan ada konsekuensinya.
Menjadi pemain berarti harus mempersiapkan fisik dan mental untuk bertahan di lapangan. Sementara, para penonton hanya ramai mengikuti perkembangan tim andalan mereka.
Para pemain harus berusaha semaksimal mungkin, ada rasa gembira ketika berhasil menjebol gawang lawan dan kecewa ketika gagal, tapi tetap harus berlari menjemput bola sampai waktu yang ditentukan. Sedang, para penonton bersorak sorai memberi semangat atau bahkan menghujat wasit dan para pemain.
Pemain harus siap banyak berlatih dan mengorbankan waktu istirahatnya. Sementara penonton hanya perlu meluangkan waktu ketika pertandingan di mulai.
Menjadi pemain mungkin akan banyak berkeringat, terjatuh, mengeluarkan banyak energi dan bahkan cidera. Sementara penonton hanya duduk manis dan mengomentari. Tertawa, berteriak, bertepuk tangan atau mengumpat di pinggir lapangan.
Menjadi penonton memang lebih mudah, TAPI...
Sekeras Apapun penonton berteriak, penonton tidak akan bisa mencetak atau mencegah goal (tak akan bisa merubah apapun)
Perubahan hanya bisa dilakukan oleh para pemain (yg bergerak/berusaha/berjuang) bukan oleh penonton (yang diam)
Kemuliaan, keberhasilan, dan kesuksesan hanya didapat oleh mereka yang bermain (berkarya/bekerja keras) bukan oleh penonton (diam)
Pahala pun Allah berikan untuk mereka yang bermain (beramal) bukan yg menonton (diam)
Jadi apa yang kita pilih dalam hidup ini? Hanya menjadi penonton atau menjadi pemain yang berusaha memenangkan pertandingan?.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar