"SESUNGGUHNYA Allah tidak akan mengubah apa-apa yang ada pada suatu kaum, hingga mereka mengubah apa-apa yang ada pada diri (jiwa) mereka.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Seorang anak TK hanya menggambar warna hitam di kertas A3, seluruhnya hitam. Gurunya sampai heran, karena besoknya dia kembali melakukan hal yang sama dan ternyata di rumahnya pun anak ini terus saja menggambar warna hitam berlembar-lembar. Hari demi hari berlalu, si anak tetap melakukan hal yang sama. Orang tuanya yang mulai khawatir lalu membawanya ke psikiater. Tapi si anak tetap bekerja seperti kerasukan tanpa mengenal tempat dan waktu. Para ahli pun tak berhasil menemukan analisis apapun. Sampai akhirnya si anak tersenyum dan tertawa bangga melihat hasil karyanya. Dia telah berhasil menyelesaikan 400 gambar. Dan ternyata itu adalah sebuah puzzle ukuran 20x20 kertas A3 yang berbentuk paus bongkok tepat sesuai ukuran hewan aslinya. Ia berfikir besar.
Begitulah, mereka yang berfikir besar selalu punya visi bahkan melakukan hal yang berbeda dari orang kebayakan. Awalnya mereka tak difahami, dianggap aneh, bahkan harus diserahkan pada para psikiater. Tapi pada akhirnya orang-orang takjub padanya. Mungkin itu resiko orang-orang yang berfikir besar. Disalahfahami, lalu dikagumi.
Suatu hari Abdullah bin Abbas pernah membuat tercengang seorang penduduk Iraq yang jauh-jauh datang untuk menanyakan suatu masalah pada beliau. “Berikan padaku perkara-perkara besar, dan masalah-masalah kecil itu berikan saja pada orang lain.” Seorang ulama lain, Abdullah bin Umar, juga punya cara pandang yang sama persis dengan Ibnu Abbas ketika seseorang bertanya apakah darah nyamuk itu najis. Beliau berkata, “wahai umat Muhammad, coba lihat penduduk Iraq ini?! mereka bertanya tentang darah nyamuk padahal tangan mereka berlumuran darah cucu Rasulullah.”
Apakah jawaban ini sebuah bentuk kesombongan intelektual? Tentu saja bukan. Mereka sama-sama pernah berada dalam bimbingan Rasulullah. Hingga sikap mereka sama. Shalih dan ‘Alim. Hanya cara penyampaiannya saja yang sesuai karakter masing-masing. Kalimat Ibnu Abbas lebih lunak, sedangkan kalimat Ibnu Umar seperti ayah beliau, tajam.
Karena itu, tak perlu ikut-ikutan ketika orang-orang ramai membicarakan (bergosip) tentang seorang penyanyi yang heboh goyangannya, atau tentang orang-orang lainnya. Pembicaraan dan pendengaran kita harusnya diisi dengan hal-hal yang bernilai dan bermakna di sisi Allah. Jika pikiran dan jiwa kita tidak diisi dengan visi-visi besar, maka hal-hal tak bermakna akan mengisi penuh ruang yang terbentang di antara mata dan hati tersebut. Lalu kita hanya bernyanyi lirih, melangkolik, dan putus asa.
Wallahu 'Alam
Diadaptasi dari buku “jalan cinta para pejuang” – Salim A. Fillah



