Minggu, 25 Maret 2012

Berfikir besar, berjiwa besar


"SESUNGGUHNYA Allah tidak akan mengubah apa-apa yang ada pada suatu kaum, hingga mereka mengubah apa-apa yang ada pada diri (jiwa) mereka.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Seorang anak TK hanya menggambar warna hitam di kertas A3, seluruhnya hitam. Gurunya sampai heran, karena besoknya dia kembali melakukan hal yang sama dan ternyata di rumahnya pun anak ini terus saja menggambar warna hitam berlembar-lembar. Hari demi hari berlalu, si anak tetap melakukan hal yang sama. Orang tuanya yang mulai khawatir lalu membawanya ke psikiater. Tapi si anak tetap bekerja seperti kerasukan tanpa mengenal tempat dan waktu. Para ahli pun tak berhasil menemukan analisis apapun. Sampai akhirnya si anak tersenyum dan tertawa bangga melihat hasil karyanya. Dia telah berhasil menyelesaikan 400 gambar. Dan ternyata itu adalah sebuah puzzle ukuran 20x20 kertas A3 yang berbentuk paus bongkok tepat sesuai ukuran hewan aslinya. Ia berfikir besar.

Begitulah, mereka yang berfikir besar selalu punya visi bahkan melakukan hal yang berbeda dari orang kebayakan. Awalnya mereka tak difahami, dianggap aneh, bahkan harus diserahkan pada para psikiater. Tapi pada akhirnya orang-orang takjub padanya. Mungkin itu resiko orang-orang yang berfikir besar. Disalahfahami, lalu dikagumi.

Suatu hari Abdullah bin Abbas pernah membuat tercengang seorang penduduk Iraq yang jauh-jauh datang untuk menanyakan suatu masalah pada beliau. “Berikan padaku perkara-perkara besar, dan masalah-masalah kecil itu berikan saja pada orang lain.” Seorang ulama lain, Abdullah bin Umar, juga punya cara pandang yang sama persis dengan Ibnu Abbas ketika seseorang bertanya apakah darah nyamuk itu najis. Beliau berkata, “wahai umat Muhammad, coba lihat penduduk Iraq ini?! mereka bertanya tentang darah nyamuk padahal tangan mereka berlumuran darah cucu Rasulullah.”

Apakah jawaban ini sebuah bentuk kesombongan intelektual? Tentu saja bukan. Mereka sama-sama pernah berada dalam bimbingan Rasulullah. Hingga sikap mereka sama. Shalih dan ‘Alim. Hanya cara penyampaiannya saja yang sesuai karakter masing-masing. Kalimat Ibnu Abbas lebih lunak, sedangkan kalimat Ibnu Umar seperti ayah beliau, tajam.

Karena itu, tak perlu ikut-ikutan ketika orang-orang ramai membicarakan (bergosip) tentang seorang penyanyi yang heboh goyangannya, atau tentang orang-orang lainnya. Pembicaraan dan pendengaran kita harusnya diisi dengan hal-hal yang bernilai dan bermakna di sisi Allah. Jika pikiran dan jiwa kita tidak diisi dengan visi-visi besar, maka hal-hal tak bermakna akan mengisi penuh ruang yang terbentang di antara mata dan hati tersebut. Lalu kita hanya bernyanyi lirih, melangkolik, dan putus asa.
Wallahu 'Alam

Diadaptasi dari buku “jalan cinta para pejuang” – Salim A. Fillah
READ MORE - Berfikir besar, berjiwa besar

Minggu, 11 Maret 2012

Menggali Makna Sukses


APA sebenarnya kesuksesan itu?
Menurut saya arti kesuksesan itu relatif, tergantung dari perspektif mana seseorang itu melihat. Ada yang beranggapan bahwa sukses itu adalah jabatan yang tinggi, sebagian yang lain mengatakan sukses itu menjadi pegawai negeri, ada juga yang menilai kesuksesan berdasarkan seberapa banyak materi yang diperoleh atau berdasarkan tingginya pendidikan yang diperoleh, dan lain-lain.

Saya pribadi lebih suka mendefinisikan sukses dari beberapa perkataan Rasul yang mulia.
Pertama, hadits yang berbunyi, “Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain"(HR. Bukhari).

Kata sukses bukanlah akhir. Sukses tidak berhenti pada pencapaian jabatan yang tinggi, sekolah di luar negeri, atau harta yang banyak. Sukses berarti seberapa banyak orang lain membutuhkan kita, seberapa banyak kita memberi dan bermanfaat untuk orang lain dalam bentuk apapun itu, segala perbuatan baik adalah ibadah jika diniatkan karena allah. bisa dalam bentuk harta, ilmu, tenaga, atau pikiran. Sukses bisa berbentuk ilmu yang diamalkan bagi kemaslahatan umat, bisa berupa seorang ibu yang sukses mendidik anak-anaknya mengenal rabbnya sejak dini dan mengurus keluarganya dengan baik. Sukses adalah ketika ilmu, amal, ibadah, dan akhlaknya sejalan.

Kedua, sabda Rasul bahwa orang yang benar adalah, "Apabila dia berbuat salah segera bertaubat, kembali kepada jalan yang benar.” Bahwa rumah yang bersih bukalah yang tak pernah kotor, tapi ketika kotor segera di bersihkan kembali. Orang yang baik bukanlah orang yang tak pernah melakukan kesalahan, mereka adalah orang-orang yang mengendalikan diri dari perbuatan yang terlarang. Namun ketika berbuat salah, ia segera memperbaiki diri.

Rasulullah s.a.w bersabda: Bertakwalah kepada Allah di manapun kamu berada. Dan iringilah akhlak buruk dengan akhlak baik niscaya ia akan menghapuskan. Dan bergaullah bersama manusia dengan akhlak yang baik. (Hadith Riwayat Athtirmidzi dan Ahmad). Allah selalu memberi kesempatan pada hambaNya yang ingin kembali, Setiap hari adalah kesempatan bagi kita untuk sukses.

Maka sukses adalah kumpulan perbaikan diri dan pengembangan kepribadian yang kita lakukan setiap hari. Sukses bisa berarti orang yang hari ini kembali bangkit setelah kemarin merasa gagal, sukses mengelola kepribadian dan emosinya. Sukses bisa berarti berhasil melatih pikiran dan perasaan menjauhkan diri dari belenggu prasangka buruk. Sukses bisa berarti peningkatan keilmuan, ibadah, disiplin, kerja keras, dan akhlak menjadi lebih baik.

Ketiga, Rasulullah bersabda, “Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang selalu mengevaluasi dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.” (HR. Turmudzi)

Pada akhirnya, pemberhentian kita paling akhir di dunia ini adalah kematian. Maka bagi seorang mukmin puncak yang harus diraih adalah bagaimana ia mempersiapkan kematian. Maka sukses sejatinya bagi mereka yang mempersiapkan bekal sebaik-baiknya ketika hidup, mempersiapkan bekal amal-amal yang tidak putus meski nafas terakhir telah berhembus dari hidungnya, yang meninggalkan dunia ini dengan husnul khatimah. Merekalah yang Rasul sebut sebagai ‘orang yang cerdas’ orang-orang yang sukses dunia akhirat.

Tentunya setiap orang berhak memilih dari sudut pandang mana mereka menilai kesuksesan. Wallahu ‘Alam

*Sebuah renungan, apakah saya telah memaknai sukses tersebut dengan baik?
READ MORE - Menggali Makna Sukses

Minggu, 04 Maret 2012

Berfikir Positif


"KALAU bangkai masih di dalam ruangan, meski kau tuang sebotol minyak wangi pun baunya tak akan hilang. Usapkan minyak wangi itu di hidungmu, maka seluruh dunia akan wangi”, tiba-tiba saja saya teringat kalimat yang pernah saya dengar dari seseorang di masa kecil saya ini.

Di dunia ini banyak sekali hal yang tidak kita tahu, apalagi tentang yang dilangit. Satu-satunya yang bisa kita kendalikan adalah diri kita sendiri. Kita mungkin tak punya banyak botol minyak wangi, tapi kita bisa mengusapkan minyak wangi tersebut dihidung kita sendiri, agar kemanapun kita pergi, seluruh dunia menjadi wangi. Kita mungkin tak bisa merubah wajah dunia, tapi kita bisa memilih apa yang kita fikirkan setiap hari. Kita tak mungkin bisa mengendalikan orang lain, tapi kita bisa mengendalikan diri kita sendiri.

Kita mungkin tak bisa merubah masa lalu kita, tapi kita bisa melatih hati kita sendiri untuk memaknainya dengan benar. Kebahagiaan hakiki datang dari kedalaman hati. Semakin dangkal ia semakin mudah keruh. Harta, jabatan, pekerjaan, keberuntungan, dan semua yang datang dari luar tak akan abadi. Begitu hilang, hilang pula kebahagiaan. Sebaliknya rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, nasib buruk juga datang dari luar. Ketika kesedihan itu datang, hati saya yang dangkal langsung keruh berkepanjangan. Allah memberikan masalah/ujian agar manusia bekerja keras memaksa hati terus berlatih membeningkan mata airnya, meski tidak mudah.

Tak ada yang kebetulan atau sia-sia. Baik-buruk tidak selalu seperti yang terlihat. Kesedihan dan kemunduran tidak selamanya buruk, terkadang ia menjadi dorongan untuk maju. Sebaliknya selalu berada dalam kesenangan dan kemudahan belum tentu baik, kita jadi tdk siap dengan cobaan, ibarat gelas panas ketika tiba-tiba dituang air dingin akan langsung pecah. Allah menciptakan segala sesuatunya seimbang, kesenangan dan kesedihan ada agar jiwa manusia seimbang. Semua ketentuan Allah adalah baik. Pengetahuan kitalah yang terbatas, sehingga kadang tidak mampu menangkap makna yang disampaikan Ilahi dengan sangat halus atau bahkan tersirat.
Wallahu ‘alam
READ MORE - Berfikir Positif

Sabtu, 03 Maret 2012

Cinta Karena Allah


CINTA karena allah adalah kebebasan dan keabadian, jauh dari prasangka serta keinginan untuk dipuja dan dipuji. Sedangkan cinta karena keinginan atau tujuan selain Allah akan hilang dengan hilangnya tujuan tersebut. Misalnya, seorang karyawan yang menghormati atasannya karena alasan pekerjaan, setelah atasannya pensiun dia tidak lagi memperhatikan atasan tersebut.

Ibnu Qayyim dalam kitab Zaadul Ma’ad mengatakan, “cinta untuk mencapai tujuan tertentu dari orang yang dicintainya, seperti kedudukan atau hartanya, akan lenyap seiring dengan lenyapnya tujuan itu. Sungguh, siapa saja yang mencintaimu karena suatu keperluan, maka ia akan berpaling darimu jika telah tercapai keinginannya”.

Dalam Majmu ’Fatawa, Ibnu Taimiyah menerangkankan bahwa,“Jiwa manusia diberi naluri untuk mencintai orang yang berbuat baik kepadanya, namun hakikatnya kecintaan itu adalah kepada kebaikan, bukan kepada orang yang telah berbuat baik. Ketika orang yang berbuat baik itu memutuskan perbuatan baiknya, maka kecintaannya akan melemah, bahkan bisa berbalik menjadi kebencian. Maka kecintaan seperti ini bukan karena Allah.”

Kita belajar dari kisah Salman Al-Farisi, suatu hari beliau meminta sahabatnya Abu Darda’ untuk melamar seorang wanita Anshar untuk dirinya. Ternyata sang wanita menolak Salman dan malah memilih Abu Darda’. Tapi reaksi Salman sungguh luar biasa, “Allahu Akbar,” serunya, “semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan akan aku serahkan pada Abu Darda’ dan aku akan menjadi saksi pernikahan ini.”

Luar biasa, bayangkan cinta dan persaudaraan berebut posisi dihati, belum lagi rasa malu karena lamarannya ditolak. Tapi seorang Salman benar-benar mampu mengamalkan sabda rasul sampai pada tingkat yang melewati perasaannya sendiri, bahwa “tidak sempurna iman seseorang sampai dia mencintai saudaranya melebihi kecintaannya pada dirinya sendiri.” Kisah Salman telah menunjukkan bahwa cinta karena Allah mampu melampaui batas perasaan suka dan tidak.

Cinta karena Allah berbanding lurus dengan ketakwaan. Semakin dekat seseorang dengan Allah, semakin mudah ia mencintai orang lain karena Allah. Meski kebaikan, pertolongan, dan pemberian orang tersebut hilang, maka sama sekali tak memberi pengaruh apapun pada kecintaannya. Keinginan dicintai Allah justru mendominasi, bahwa barang siapa yang ingin dicintai Allah dan Rasul, maka berbuat baik pada manusia karena Allah. Suatu hari para sahabat bertanya,”wahai Rasul, siapa hamba yang paling dicintai Allah?,” Beliau menjawab,”yang paling baik akhlaknya pada manusia.” (HR Ahmad)

Bagi kita, kecintaan seperti ini mungkin tidak mudah, perlu latihan terus menerus. Memperbaharui niat selalu, ketika niat melenceng maka segera perbaiki niat karena Allah. Karena niat dan tujuanlah yang kemudian menguatkan kita. Wallahu ‘Alam.
READ MORE - Cinta Karena Allah