Sabtu, 03 Maret 2012
Cinta Karena Allah
CINTA karena allah adalah kebebasan dan keabadian, jauh dari prasangka serta keinginan untuk dipuja dan dipuji. Sedangkan cinta karena keinginan atau tujuan selain Allah akan hilang dengan hilangnya tujuan tersebut. Misalnya, seorang karyawan yang menghormati atasannya karena alasan pekerjaan, setelah atasannya pensiun dia tidak lagi memperhatikan atasan tersebut.
Ibnu Qayyim dalam kitab Zaadul Ma’ad mengatakan, “cinta untuk mencapai tujuan tertentu dari orang yang dicintainya, seperti kedudukan atau hartanya, akan lenyap seiring dengan lenyapnya tujuan itu. Sungguh, siapa saja yang mencintaimu karena suatu keperluan, maka ia akan berpaling darimu jika telah tercapai keinginannya”.
Dalam Majmu ’Fatawa, Ibnu Taimiyah menerangkankan bahwa,“Jiwa manusia diberi naluri untuk mencintai orang yang berbuat baik kepadanya, namun hakikatnya kecintaan itu adalah kepada kebaikan, bukan kepada orang yang telah berbuat baik. Ketika orang yang berbuat baik itu memutuskan perbuatan baiknya, maka kecintaannya akan melemah, bahkan bisa berbalik menjadi kebencian. Maka kecintaan seperti ini bukan karena Allah.”
Kita belajar dari kisah Salman Al-Farisi, suatu hari beliau meminta sahabatnya Abu Darda’ untuk melamar seorang wanita Anshar untuk dirinya. Ternyata sang wanita menolak Salman dan malah memilih Abu Darda’. Tapi reaksi Salman sungguh luar biasa, “Allahu Akbar,” serunya, “semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan akan aku serahkan pada Abu Darda’ dan aku akan menjadi saksi pernikahan ini.”
Luar biasa, bayangkan cinta dan persaudaraan berebut posisi dihati, belum lagi rasa malu karena lamarannya ditolak. Tapi seorang Salman benar-benar mampu mengamalkan sabda rasul sampai pada tingkat yang melewati perasaannya sendiri, bahwa “tidak sempurna iman seseorang sampai dia mencintai saudaranya melebihi kecintaannya pada dirinya sendiri.” Kisah Salman telah menunjukkan bahwa cinta karena Allah mampu melampaui batas perasaan suka dan tidak.
Cinta karena Allah berbanding lurus dengan ketakwaan. Semakin dekat seseorang dengan Allah, semakin mudah ia mencintai orang lain karena Allah. Meski kebaikan, pertolongan, dan pemberian orang tersebut hilang, maka sama sekali tak memberi pengaruh apapun pada kecintaannya. Keinginan dicintai Allah justru mendominasi, bahwa barang siapa yang ingin dicintai Allah dan Rasul, maka berbuat baik pada manusia karena Allah. Suatu hari para sahabat bertanya,”wahai Rasul, siapa hamba yang paling dicintai Allah?,” Beliau menjawab,”yang paling baik akhlaknya pada manusia.” (HR Ahmad)
Bagi kita, kecintaan seperti ini mungkin tidak mudah, perlu latihan terus menerus. Memperbaharui niat selalu, ketika niat melenceng maka segera perbaiki niat karena Allah. Karena niat dan tujuanlah yang kemudian menguatkan kita. Wallahu ‘Alam.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar