Minggu, 08 April 2012

Feel Like “Aktor Se-Dunia”


MENIKMATI kebersamaan bersama anak-anak, dengan beragam tingkah polah yang terkadang membuat kepala pusing sekaligus menggelikan. Saat mereka bercerita misalnya, ada yang membuat saya tertawa, beberapa pemikiran mereka ada yang menurutku aneh, beberapa diantaranya malah masalah kecil dan tak perlu ditangisi.

Tapi, saya menepuk dahi mengingat hal ini. Bukankah pemikiran saya juga terlihat aneh, bahkan masalah saya juga mungkin tak perlu di tangisi dalam pandangan orang yang lebih dewasa dari saya?. Tentu saja anak-anak ini menangis karena dalam usia dini menurut mereka masalah yang mereka hadapi itu ‘berat’. Sama saja kan?. Meski di antaranya ada juga beberapa kasus yang memang cukup serius untuk usia mereka.

Ah..Tanpa sadar, terkadang kita merasa kita sendirilah aktor di panggung dunia ini. Saat melihat album foto, wajah kitalah yang pertama kita cari. Dalam kehidupan sehari-hari, kita merasa cerita kitalah paling hebat, paling menarik, paling seru, paling sedih, paling menyakitkan, dan paling,,paling lainnya. Padahal kita bukan tokoh utama dalam dunia ini.

Dan padahal takdir setiap orang melesat dalam satu detik yang sama, apakah itu cerita sedih atau senang, bertemu atau berpisah, yang datang dan yang pergi, yang jelas semuanya menjalani ‘skenario’nya masing-masing persis di detik yang bersamaan. Sehingga sebenarnya tak ada aktor dan pemain figuran, karena semua manusia adalah aktor yang saling bertemu dengan aktor lainnya untuk melengkapi jalan cerita masing-masing. Aktor yang menjalani skenarionya masing-masing, yang pada dasarnya telah diberi pengarahan lengkap oleh ‘Sang Sutradara’.

Pada dasarnya Allah telah menunjukkan pada kita dua jalan, kebaikan dan keburukan. Dalam setiap detik kehidupan manusia, sesungguhnya manusia itu sedang diuji, apakah ia memilih jalan yang baik atau jalan yang buruk.
Dan Kami telah menunjukkan (manusia ) dua jalan (kebaikan dan keburukan)" (Al Balad:10)Dalam surat Al-Insan ayat 3, Allah kembali menegaskan:
“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.”

Tugas kita yang sebenarnya adalah menghamba padaNya dalam bentuk apapun. Sebagai pelajarkah, ibu rumah tanggakah, gurukah, pedagangkah. Dan Bahwa belajar adalah sarana, rumah adalah sarana, menikah adalah sarana, uang/harta/kekayaan hanyalah alat, segala hal yang ada di dunia ini bukanlah tujuan. Hanya alat dan sarana untuk mengabdi padaNya dalam bentuk apapun. Wallahu ‘alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar