Selasa, 24 Januari 2012

Synchronizing Perkataan dan Perbuatan

STATUS QUO. Tak bisa tidur setiap kali teringat kata-kata “ga sesuai kata-kata dengan perbuatan”. Ya allah, seperti itukah saya? Ah..mungkin memang benar. Baiklah, dengarkan penilaian orang lain, karena kita memang tak bisa menilai diri sendiri. Paradox sering membuat kita tak singkron.

Ya..Paradox berarti dua hal yang bertolak belakang yang kadang memunculkan perasaan la>ngit dan bumi secara bersamaan. Ketika kita tidak ingin melakukan sesuatu tapi kemudian malah kita lakukan, atau sebaliknya. Saat tak mau berlebihan misalnya, tapi ternyata kita berlebihan.

Paradox juga hadir saat kita terlalu fokus pada hasil, bukan pada proses. Hingga sebelum proses itu selesai kita sudah kehabisan energi. Padahal proses bisa jadi panjang, bisa juga lebih cepat dari yang kita bayangkan.

Paradox dalam diri tersebut kadang membuat kita merasa lelah bukan karena apa yang terjadi di luar sana, tapi karena ‘perang’ di dalam diri kita sendiri. Di satu sisi pikiran sadar kita ingin, tetapi di sisi lain kita merasa tidak mampu dan minder. Kemudian terjadilah ketidaksingkronan antara pikiran dan perasaan atau perkataan dan perbuatan kita.

Dan dualisme in paradox ini membuat saya merasa begitu bersalah pada seseorang, tak sanggup rasanya bertemu orang tersebut, malu kelas kakap, malu dan menyesal.

Lalu bagaimana dengan Allah? bukankah setidaknya lima kali sehari kita mengucapkan, “inna shalati, wanusuki, wamahyaya, wamamati, lillahirabbil 'alamin” (sesungguhnya sholatku, sesembahanku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah penguasa semesta alam)?

Sudah singkronkah perkataan dengan perbuatan kita? Bagaimana kalau shalat kita masih malas-malasan, puasa kita masih sekedar menahan lapar, sedekah kita masih ingin dipuji orang, bacaan Al-Quran tapi tak pernah kita amalkan? Bagaimana setiap kali kita melanggar hukum dan larangan Allah?

Sungguh apa yang kita berikan kepada Allah masih main-main, sama sekali tidak sebanding dengan apa yang Allah berikan pada kita. Terlalu banyak ketidaksingkronan kata dengan amal kita dihadapanNya. “hidup dan matiku untuk Allah”, benarkah? Apa yang sudah kita berikan untuk Allah?

* Menutup muka dengan tangan, menangis tertahan.. Malu dan Menyesal
READ MORE - Synchronizing Perkataan dan Perbuatan

Sabtu, 21 Januari 2012

Allah Menyayangi Kita


PERNAHKAN kita merasa seperti punya tempat bersandar atau menemukan tempat yang sangat rindang setelah sekian lama berjalan sendirian diterik matahari?. Namun, saat kita sedang berteduh sambil menikmati semilir angin, tiba-tiba saja ia hilang. Apa yang kita harapkan tiba-tiba pergi seperti fatamorgana di tengah padang pasir. Kita menjadi bingung, sedih, bahkan stress. Sehingga keadaan menjadi lebih buruk lagi.

Tapi kemudian kita sadar bahwa tak ada yang abadi. Kehilangan membuat kita mengerti bahwa meski sangat kita sayangi, suatu saat semua yang kita miliki akan pergi, bahkan yang melekat pada diri kita. Suatu saat kita akan terputus dengan dunia ini, kecuali tiga hal: amal jariah, anak shaleh yang mendoakan, dan ilmu yang bermanfaat. Saat kesedihan memuncak, seolah Allah ingin memperlihatkan bahwa kita tak memiliki sandaran lain kecuali Dia saja. Saat dunia terasa gelap, saat semua pintu seolah tertutup, ketika tidak ada lagi yang bisa menolong kita, yang tinggal hanya Allah. Ia tak akan kemana-mana, selalu menjaga kita. Tak ada pintu pertolongan lain selain pintuNya.

Andai saya tak buta hati dahulu, mungkin sejak lama sudah mengerti tentang arti sebuah keyakinan (iman) dalam diri. Bahwa kematangan dan kedewasaan kita dalam hidup ini, sangat dipengaruhi oleh keimanan. Saat terjatuh kemudian putus asa dan seolah tak bisa bangkit lagi, lalu di mana iman yang selama ini kita dengung-dengungkan?. Bukankah dalam setiap cobaan sebenarnya adalah ujian iman, sejauh mana kita percaya (beriman) bahwa Allah adalah al-wakil, bahwa allah tak mungkin mendhalimi hamba, bahwa tak ada yang sia-sia dan kebetulan dalam takdir pertemuan dan perpisahan setiap makhluk.

Betapa pentingnya kita menjernihkan mata hati dan berbaik sangka padaNya dalam kondisi apapun. Ketika Allah belum juga mengabulkan doa-doa kita misalnya, mungkin Dia ingin kita mempersiapkan diri lebih matang, mungkin masih ada hal yang harus kita lakukan untuk orang lain. Dan Allah sangat senang melihat hambaNya menangis dalam doa, Sebuah hadits yang riwayatkan oleh imam al-Baihaqi dari sahabat Anas bin Malik RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: bahwasanya Jibril AS kasihan melihat seseorang yang bolak-balik dalam doanya, sehingga ia berkata kepada Allah SWT, "Ya Rabb, hamba-Mu si Fulan itu sudah sekian lama berdoa, tetapi belum juga Engkau kabulkan. Perkenankanlah wahai Tuhan permintaannya." Allah SWT pun menjawab, "(sudah) Biarkan saja hamba-Ku (itu). Tundalah dulu permintaannya. Sesungguhnya Aku amat senang mendengar suaranya (saat bermunajat kepada-Ku)."

Allah juga mengatakan,”Katakanlah, Hai hamba-hambaKu yang melampui batas terhadap diri sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. az-Zumar : 53).
READ MORE - Allah Menyayangi Kita

Jumat, 13 Januari 2012

Membelenggu Prasangka Buruk

"JANGAN terlalu berperasaan” kata seseorang pada saya waktu itu. Saat itu saya berfikir, "apa salahnya, bukankah para wanita memang secara umum sering menggunakan perasaannya?". Itu pikiran saya dulu. Tapi saat saya menerjemahkan kata-kata itu menjadi “jangan berprasangka”, tiba-tiba saja saya jadi sangat tertarik untuk memahaminya.

Dan ternyata Allah dan Rasul telah mengajarkan tentang ini.Rasulullah bersabda, ”Hati-hati kalian dari persangkaan yang buruk (zhan) karena zhan itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mendengarkan ucapan orang lain dalam keadaan mereka tidak suka. Janganlah kalian mencari-cari cela orang lain. Jangan kalian berlomba-lomba untuk menguasai sesuatu. Janganlah kalian saling hasad, saling benci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang Dia perintahkan." (HR. ِAl-Bukhari no. 6066 dan Muslim no. 6482)

Nampaknya penelitian yang dilakukan oleh Deepak Chopra turut menguatkan hadist di atas. Beliau mengatakan, bahwa pikiran dan perasaan manusia cenderung mengarah kepada hal-hal negatif. Setiap hari selama 24 jam, manusia menghasilkan 55.000 sampai 65.000 buah pikiran dan 80 % - 90.5% cenderung negatif. Lalu bagaimana dalam seminggu, sebulan, setahun???.

Allah Sang Khalik tentu sangat tahu karakter manusia ini. Karena itulah Allah telah mewanti-wanti kita agar menjauhi sebagian prasangka, dalam firmannya, “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan (zhan) karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa.” (Al-Hujurat: 12)

Salah seorang sahabat saya bilang, “kalau terbersit prasangka buruk, fikirkanlah 77 kemungkinan. Karena sebelum sampai ke 77 kemungkinan tersebut, kita sudah tersenyum dengan tulus. Ketika ingin marah, ingatlah kebaikan-kebaikannya, maka kita tidak akan sanggup untuk marah padanya. Kalau kita mau hanya fokus pada kebaikannya, maka seburuk-buruknya setiap manusia, pasti akan kita temukan sifat baiknya.”

Pelajaran dari ini cukup mujarab ketika suatu hari, seorang anak datang pada saya dengan air mata berlinang dan mengatakan bahwa tak ada teman-teman yang memperdulikannya. Saya mengatakan padanya logika yang sama, “Nak,, jangan buru-buru menyalahkan orang lain. Pertama, mungkin kita pernah bersikap sama pada seseorang, jadi allah tegur kita melalui orang lain. Kedua, mungkin tanpa sadar kita menjadikan diri kita sebagai cermin untuk sikap orang lain, padahal selama ini justru kita yang sering bersikap cuek dan tidak peduli pada teman. Sama saja saat kita merasa orang lain sinis, mungkin kita yang sering begitu hingga kita merasa cara dia memandang itu sinis, dan padahal mungkin matanya emang lagi sakit. Jangan buru-buru menilai orang lain, itu berprasangka”. Alhamdulillah, anak ini berhenti menangis, mungkin dia setuju dengan apa yang saya katakan. :)

* Terima Kasih Sang Safra, untuk semua hal…:)
READ MORE - Membelenggu Prasangka Buruk

Minggu, 01 Januari 2012

Bergerak ke Titik Balik


BEGITU besar nikmat Allah dalam ketidaktahuan takdir. Ketidaktahuan membuat upaya berbuat maksimal dan kerja keras menjadi suatu keniscayaan. Dan cobaan, rintangan, halangan yang mengiringinya menjadi sebuah keniscayaan juga. Jika kita tahu takdir apa yang menimpa kita, maka motivasi lagi tak berguna, semangat dan ikhtiar akan mati, malas dan putus asa pun menanti.

Namun, ternyata rintangan dan halangan yang muncul dari diri sendiri lebih besar dan lebih mematikan dari pada yang datang dari luar. Tanpa kita sadari, terkadang cita-cita berubah menjadi keinginan nafsu. Hingga kita tidak lagi menikmati proses, malah berfokus pada hasil. Padahal Setinggi apapun cita-cita tidak boleh bergeser jadi hawa, karena nanti dihadapanNya akan kita pertanggungjawabkan semuanya.

Dikisahkan, sekembalinya dari sebuah pertempuran badar, Rasulullah SAW berkata, "Kita baru saja pulang dari jihad (perang) kecil menuju jihad terbesar (al-jihad al-akbar).” Para sahabat bertanya, "Apakah gerangan itu wahai Rasulullah?" Nabi menjawab, 'Mujahadat al-Nafs' (perang menaklukkan diri sendiri)". (HR. Baihaqi).

Dalam hadist lain Rasul bersabda,"Petarung sejati (mujahid) adalah orang yang mampu menaklukkan dirinya sendiri. Orang yang hijrah adalah orang yang mampu meninggalkan keburukan." (HR. Ahmad dan Baihaqi).

Mari berterima kasih pada masalah. Tak ada yang salah dengan masalah, yang ada hanya jiwa yang rapuh, lalu sebuah peristiwa menyentak, menjadikannya berkeping-keping. Masalah membuat kita melongok kembali ke dalam diri kita sendiri, mengenali diri sendiri. Membuat kita mengoreksi pemahaman kita selama ini. Membuat kita menyadari seberapa kuatnya keyakinan pada cita-cita kita.

Mari berterima kasih pada masalah, ia membuat kita jadi manusiawi dengan ragam rasa, sedih, bingung, dan lain-lain. Bukankah saat menonton sebuah film, tidak seru jika ceritanya datar-datar saja tanpa konflik dan masalah dalamnya? Masalah membuat kita menyadari apa saja yang kemudian harus kita perbaiki dari diri kita. Karena demi Allah, introspeksi diri tak cukup satu hari. Bahkan bagi seorang muslim, ujian sebenarnya ada dalam setiap hembusan nafasnya.Membuat kita bergerak ke titik balik. Membuat kita melihat betapa kuasanya dan besarnya kasih sayang Allah. Wallahu ‘alam
READ MORE - Bergerak ke Titik Balik