Jumat, 13 Januari 2012

Membelenggu Prasangka Buruk

"JANGAN terlalu berperasaan” kata seseorang pada saya waktu itu. Saat itu saya berfikir, "apa salahnya, bukankah para wanita memang secara umum sering menggunakan perasaannya?". Itu pikiran saya dulu. Tapi saat saya menerjemahkan kata-kata itu menjadi “jangan berprasangka”, tiba-tiba saja saya jadi sangat tertarik untuk memahaminya.

Dan ternyata Allah dan Rasul telah mengajarkan tentang ini.Rasulullah bersabda, ”Hati-hati kalian dari persangkaan yang buruk (zhan) karena zhan itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mendengarkan ucapan orang lain dalam keadaan mereka tidak suka. Janganlah kalian mencari-cari cela orang lain. Jangan kalian berlomba-lomba untuk menguasai sesuatu. Janganlah kalian saling hasad, saling benci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang Dia perintahkan." (HR. ِAl-Bukhari no. 6066 dan Muslim no. 6482)

Nampaknya penelitian yang dilakukan oleh Deepak Chopra turut menguatkan hadist di atas. Beliau mengatakan, bahwa pikiran dan perasaan manusia cenderung mengarah kepada hal-hal negatif. Setiap hari selama 24 jam, manusia menghasilkan 55.000 sampai 65.000 buah pikiran dan 80 % - 90.5% cenderung negatif. Lalu bagaimana dalam seminggu, sebulan, setahun???.

Allah Sang Khalik tentu sangat tahu karakter manusia ini. Karena itulah Allah telah mewanti-wanti kita agar menjauhi sebagian prasangka, dalam firmannya, “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan (zhan) karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa.” (Al-Hujurat: 12)

Salah seorang sahabat saya bilang, “kalau terbersit prasangka buruk, fikirkanlah 77 kemungkinan. Karena sebelum sampai ke 77 kemungkinan tersebut, kita sudah tersenyum dengan tulus. Ketika ingin marah, ingatlah kebaikan-kebaikannya, maka kita tidak akan sanggup untuk marah padanya. Kalau kita mau hanya fokus pada kebaikannya, maka seburuk-buruknya setiap manusia, pasti akan kita temukan sifat baiknya.”

Pelajaran dari ini cukup mujarab ketika suatu hari, seorang anak datang pada saya dengan air mata berlinang dan mengatakan bahwa tak ada teman-teman yang memperdulikannya. Saya mengatakan padanya logika yang sama, “Nak,, jangan buru-buru menyalahkan orang lain. Pertama, mungkin kita pernah bersikap sama pada seseorang, jadi allah tegur kita melalui orang lain. Kedua, mungkin tanpa sadar kita menjadikan diri kita sebagai cermin untuk sikap orang lain, padahal selama ini justru kita yang sering bersikap cuek dan tidak peduli pada teman. Sama saja saat kita merasa orang lain sinis, mungkin kita yang sering begitu hingga kita merasa cara dia memandang itu sinis, dan padahal mungkin matanya emang lagi sakit. Jangan buru-buru menilai orang lain, itu berprasangka”. Alhamdulillah, anak ini berhenti menangis, mungkin dia setuju dengan apa yang saya katakan. :)

* Terima Kasih Sang Safra, untuk semua hal…:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar