Minggu, 01 Januari 2012

Bergerak ke Titik Balik


BEGITU besar nikmat Allah dalam ketidaktahuan takdir. Ketidaktahuan membuat upaya berbuat maksimal dan kerja keras menjadi suatu keniscayaan. Dan cobaan, rintangan, halangan yang mengiringinya menjadi sebuah keniscayaan juga. Jika kita tahu takdir apa yang menimpa kita, maka motivasi lagi tak berguna, semangat dan ikhtiar akan mati, malas dan putus asa pun menanti.

Namun, ternyata rintangan dan halangan yang muncul dari diri sendiri lebih besar dan lebih mematikan dari pada yang datang dari luar. Tanpa kita sadari, terkadang cita-cita berubah menjadi keinginan nafsu. Hingga kita tidak lagi menikmati proses, malah berfokus pada hasil. Padahal Setinggi apapun cita-cita tidak boleh bergeser jadi hawa, karena nanti dihadapanNya akan kita pertanggungjawabkan semuanya.

Dikisahkan, sekembalinya dari sebuah pertempuran badar, Rasulullah SAW berkata, "Kita baru saja pulang dari jihad (perang) kecil menuju jihad terbesar (al-jihad al-akbar).” Para sahabat bertanya, "Apakah gerangan itu wahai Rasulullah?" Nabi menjawab, 'Mujahadat al-Nafs' (perang menaklukkan diri sendiri)". (HR. Baihaqi).

Dalam hadist lain Rasul bersabda,"Petarung sejati (mujahid) adalah orang yang mampu menaklukkan dirinya sendiri. Orang yang hijrah adalah orang yang mampu meninggalkan keburukan." (HR. Ahmad dan Baihaqi).

Mari berterima kasih pada masalah. Tak ada yang salah dengan masalah, yang ada hanya jiwa yang rapuh, lalu sebuah peristiwa menyentak, menjadikannya berkeping-keping. Masalah membuat kita melongok kembali ke dalam diri kita sendiri, mengenali diri sendiri. Membuat kita mengoreksi pemahaman kita selama ini. Membuat kita menyadari seberapa kuatnya keyakinan pada cita-cita kita.

Mari berterima kasih pada masalah, ia membuat kita jadi manusiawi dengan ragam rasa, sedih, bingung, dan lain-lain. Bukankah saat menonton sebuah film, tidak seru jika ceritanya datar-datar saja tanpa konflik dan masalah dalamnya? Masalah membuat kita menyadari apa saja yang kemudian harus kita perbaiki dari diri kita. Karena demi Allah, introspeksi diri tak cukup satu hari. Bahkan bagi seorang muslim, ujian sebenarnya ada dalam setiap hembusan nafasnya.Membuat kita bergerak ke titik balik. Membuat kita melihat betapa kuasanya dan besarnya kasih sayang Allah. Wallahu ‘alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar