STATUS QUO. Tak bisa tidur setiap kali teringat kata-kata “ga sesuai kata-kata dengan perbuatan”. Ya allah, seperti itukah saya? Ah..mungkin memang benar. Baiklah, dengarkan penilaian orang lain, karena kita memang tak bisa menilai diri sendiri. Paradox sering membuat kita tak singkron.
Ya..Paradox berarti dua hal yang bertolak belakang yang kadang memunculkan perasaan la>ngit dan bumi secara bersamaan. Ketika kita tidak ingin melakukan sesuatu tapi kemudian malah kita lakukan, atau sebaliknya. Saat tak mau berlebihan misalnya, tapi ternyata kita berlebihan.
Paradox juga hadir saat kita terlalu fokus pada hasil, bukan pada proses. Hingga sebelum proses itu selesai kita sudah kehabisan energi. Padahal proses bisa jadi panjang, bisa juga lebih cepat dari yang kita bayangkan.
Paradox dalam diri tersebut kadang membuat kita merasa lelah bukan karena apa yang terjadi di luar sana, tapi karena ‘perang’ di dalam diri kita sendiri. Di satu sisi pikiran sadar kita ingin, tetapi di sisi lain kita merasa tidak mampu dan minder. Kemudian terjadilah ketidaksingkronan antara pikiran dan perasaan atau perkataan dan perbuatan kita.
Dan dualisme in paradox ini membuat saya merasa begitu bersalah pada seseorang, tak sanggup rasanya bertemu orang tersebut, malu kelas kakap, malu dan menyesal.
Lalu bagaimana dengan Allah? bukankah setidaknya lima kali sehari kita mengucapkan, “inna shalati, wanusuki, wamahyaya, wamamati, lillahirabbil 'alamin” (sesungguhnya sholatku, sesembahanku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah penguasa semesta alam)?
Sudah singkronkah perkataan dengan perbuatan kita? Bagaimana kalau shalat kita masih malas-malasan, puasa kita masih sekedar menahan lapar, sedekah kita masih ingin dipuji orang, bacaan Al-Quran tapi tak pernah kita amalkan? Bagaimana setiap kali kita melanggar hukum dan larangan Allah?
Sungguh apa yang kita berikan kepada Allah masih main-main, sama sekali tidak sebanding dengan apa yang Allah berikan pada kita. Terlalu banyak ketidaksingkronan kata dengan amal kita dihadapanNya. “hidup dan matiku untuk Allah”, benarkah? Apa yang sudah kita berikan untuk Allah?
* Menutup muka dengan tangan, menangis tertahan.. Malu dan Menyesal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar