Jumat, 06 Juli 2012

Membeningkan Visi


VISI, adalah tujuan yang mampu mengokohkan jiwa dan merambatkan cita. Disana ada mimpi, harapan, dan cita-cita kita. Visi bahkan lebih penting dari pada pengetahuan. Pengetahuan bersifat lampau, sudah berlalu, dan terbatas. Sedangkan visi adalah masa depan yang tak terbatas, begitu kata Albert Einstein. Visi lebih besar dari pada sejarah, lebih besar dari pada beban kita, lebih besar dari pada luka nestapa emosi kita di masa lalu. Kita mungkin tak tahu apa yang akan terjadi pada impian yang ingin kita gapai tersebut, sekitar kita mungkin masih gelap, tapi visilah yang bersinar terang di kejauhan dan memberi kita arah, membuat kita tetap berjalan ke arah impian meski harus merangkak, terantuk, terjerambab, dan terperosok. Lalu ada saat di antara berbagai kejatuhan itu di mana kita bisa berlari, meloncat, atau bahkan terbang.

Mereka yang punya keyakinan kuat pada visi, mimpi, dan tujuannya akan tertuntun, bahkan kesulitan sekalipun mampu memberinya jalan. Sedang mereka yang tak yakin pada visinya, tak punya tujuan yang ingin dicapai hanya akan berdiri, berjongkok, berputar-putar, dan gigit jari, lalu mencari-cari alasan. Bahkan alasan-alasan ini akan datang sendiri tanpa dicari. Karena akan selalu ada jalan yang mendaki, selalu ada laut yang membadai.

Kisah-kisah ini menjadi semangat luar biasa bagi saya. Adalah Muhammad A-Fatih, sultan muda berusia 23 tahun, sang penakluk Konstantinopel. Sejak kecil beliau sering mendengar sebuah hadist tentang seorang sahabat yang bertanya “manakah yang lebih dulu dibebaskan, Konstantinopel ataukah roma?.” Rasul menjawab,”kota Heraclius lebih dulu, yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pasukan, dan pemimpinnya adalah sebaik-baik panglima.”

Hadist ini membuat cita tujuh abad lalu itu bergemuruh di dadanya, menggelorakan impiannya, lalu berusaha memantaskan diri agar menjadi ‘sebaik-baiknya panglima’ atau setidaknya ‘sebaik-baiknya pasukan’. Beliau menjauhi kehidupan mewah istana, berguru pada para ulama, dan mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya. Sejak baligh sampai menjadi seorang sultan, beliau tak pernah meninggalkan shalat fardhu, puasa ramadhan, dan shalat malam, tak pernah khatam Al-Quran lebih dari sebulan, tak pernah kehilangan hafalan Qurannya, dan tak pernah meninggalkan puasa Ayyamul Bidh. Luar Biasa..visi menjadi ’pemimpin sebaik-baiknya pemimpin’ itu terwujud dengan ditaklukkannya Konstantinopel.

Kisah yang satu ini pun tak kalah mengobarkan semangat introspeksi diri. kisah tentang seorang pemuda biasa yang lahir dari keluarga miskin lagi pengungsi. Mimpinya adalah membebaskan tanah kelahirannya. Tak disangka, di usianya yang masih remaja, 16 tahun, beliau lumpuh. Namun bagi pemuda ini kelumpuhannya sama sekali tak mampu melumpuhkan mimpinya tersebut, bahkan kian berkobar. Perkenalkan nama beliau adalah Ahmad Yassin.

Lelaki ini ditakuti Israel, bukan karena fisiknya seperti Rambo. Beliau hanya seorang yang berkursi roda, yang bahkan bicara pun terbata-bata. Bertahun-tahun kemudian beliau berada dalam penjara Israel. Orang-orang mungkin bertanya, "apa bahayanya orang tua yang lumpuh dan berpenyakitan ini?", tapi inilah yang membuat Israel begitu ketakukan. Kekuatan jiwa yang membuat visi beliau begitu kokoh. Jiwa yang dipenuhi impian dan keyakinan pada janji Ilahi, hingga jasad yang rapuh itu bersinar bagaikan matahari. Membuat beliau begitu perkasa, begitu berwibawa di hadapan jutaan pasukan bersenjata lengkap berkendaraan lapis baja.

Saya membaca tentang visi dan kisah ini dari buku Jalan Cinta Para Pejuang goresan pena Salim A. Fillah. Subhanallah, gairah mereka adalah syurga. Kuatnya harapan dan keyakinan itu membuat motivasi mereka tak pernah mati. Rasa haru dan semangat terasa membuncah di hati saya. Kesadaran terkuak, selama ini saya belum melakukan apa-apa.

Dan Alangkah sedihnya cinta yang tak punya visi. Ia kecil, mengerdil. Tak melewati batas-batas syahwati. Tak melewati rasam-rasam emosi. Tak menjangkau ufuk-ufuk Ilahi. Ia hanya kenangan lama yang tak lebih dari jejak-jejak air mata. Kalaupun ada hari ini, ia hanya jadi rindu semalam, cemburu sepagi, dan tengkar sesiang.

Lalu apa visi, mimpi, dan harapan kita? Mungkin ada di antara kita yang tersengat dengan kata-kata, “ibu adalah sekolah pertama”, mereka yang sangat ingin mendidik generasi-generasi yang mengenal rabbnya sejak dini. Belajarlah dari kisah ini, lalu berusaha belajar memantaskan diri dengan cita-cita tersebut dan mendekatkan diri pada Allah sedekat-dekatnya. Sungguh hanya dengan visi yang besar, tinggi, dan bening kita bisa menyusul mimpi tersebut. Wallahu ‘Alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar