Selasa, 03 Juli 2012

Mencintai Adalah Pilihan


"DALAM makna memberi itu posisi kita sangat kuat. Kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan atau lemah dan melangkolik saat kandas karena takdirNya. Sebab di sini kita justru sedang melakukan sebuah “pekerjaan jiwa” yang besar dan agung, MENCINTAI.

Ukuran kesejatian cintamu adalah apa yang kamu berikan padanya untuk membuat kehidupannya menjadi lebih baik. maka kamu adalah air, maka kamu adalah matahari. Ia tumbuh dan berkembang dari siraman airmu. Ia besar dan berbuah dari sinarmu."

M. Anis Matta

-----------------------------------------------------------------------------------
Cinta menjadi tak sederhana ketika cinta yang kita maksud adalah persoalan “dicintai”. Kata kerja yang diawali “di” menunjukkan sikap pasif, sesuatu yang diluar kendali penuh jiwa kita. “dicintai” berarti menunggu “diberi” cinta. Padahal kita ‘dicintai’ atau tidak bukanlah sesuatu yang bisa kita paksakan. Dunia diluar kita punya perasaan sendiri dalam memutuskan siapa yang dicintai atau tidak. Sedangkan kata kerja yang diawali “me” menunjukkan sikap “memberi”. Maka mencintai adalah keputusan kita.

Ketika kita membalikkan kata ‘dicintai’ menjadi ‘mencintai’, maka kita sendirilah yang menjadi 'nakhoda' diri kita sendiri, karena mencintai berada dalam kendali penuh jiwa merdeka kita, karena makna “mencintai” adalah “memberi”. Bahkan kita sendiri yang memilih bagaimana mengatur perasaan kita agar tak kecewa, tak merasa terhina karena penolakan. Kalau ‘mencintai’ saja sudah cukup membahagiakan, maka tak lagi risau jikapun tak ‘dicintai'. Kitalah yang memilih pikiran kita sendiri dan berusaha hanya mengisinya dengan prasangka baik, karena setiap pilihan akan ada pertanggungjawaban di hadapanNya.

Lalu, cinta harus selalu dimahkotai dengan cahaya iman, sehingga kita tak menuntut lebih dan tak merasa memiliki, karena percaya pada kebaikan-kebaikan dari semua ketentuan Allah. Rasa memiliki terkadang membawa kelalaian dan memabukkan. Dan sejatinya kita memang tak memiliki apapun didunia ini. Belajar dari kisah Nabi Ibrahim ketika Allah perintahkan beliau untuk meninggalkan Ibunda Hajar dan Ismail. Hati mungkin bergejolak tak tega, mengingat anak yang dinanti bertahun-tahun lamanya harus ditinggalkan digurun tandus tak berpenghuni bersama istri tercinta. Tapi gejolak itu menjadi keteguhan, nabi Ibrahim telah membuktikan cintanya pada Allah. Begitu pula ibunda Hajar ketika mengatakan, "kalau ini perintah Allah, maka Dia tak kan pernah meninggalkan kami." kalimat ini menjadi proklamasi iman sepanjang masa. Kelak dari sinilah lahir amalan-amalan dalam ibadah Haji. Cahaya iman yang menjadikan cinta bersujud di mihrab taat pada sang Khalik, hingga meloncati perasaan dan emosi-emosi dalam diri.

Bahwa“Cinta adalah kata kerja karena itu perlu pengorbanan, sebagaimana cinta kepada Allah tak langsung mengisi hati kita melainkan butuh usaha dan upaya untuk meraihnya. Cinta memang harus diupayakan, sehingga menjadi tak relevan ketika ada seorang suami yang mengatakan “aku sudah tak mencintaimu lagi.” Justru karena kau tak mencintainya lagi, maka cintailah dia. Karena cinta adalah kata kerja. Lakukanlan kerja jiwa raga untuk mencintainya.” (Salim A. Fillah-Jalan Cinta Para pejuang) Ya..Karena cinta adalah pilihan.

Wallahu 'Alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar