Jumat, 06 Juli 2012

Memaknai hidup dengan ‘Pengertian’

"FASE tersulit dalam hidup bukanlah ketika tak ada seorangpun yang mengerti dirimu, tetapi justru pada saat kamu tidak mengerti dirimu sendiri.” Anonim.
-------------------------------------------------------------------------------------
Ya terkadang kita merasa tak dimengerti, padahal kitalah yang tak mengerti diri kita sendiri. Bagaimanalah orang lain mau mengerti kita dan bagaimana pula kita bisa mengerti orang lain, kalau kita bahkan tidak mengerti diri sendiri. Dan terkadang hal-hal yang menyakitkan justru mampu membuat seseorang menyadari apa yang dirasakannya. Kehilangan misalnya, terkadang justru mampu menjelaskan apa yang sesungguhnya kita rasakan.

Tanpa sadar kita menjadikan diri kita sebagai cermin terhadap orang lain. Kita merasa apa yang kita pikirkan sama dengan apa yang orang lain pikirkan. Kalau kita sering berprasangka buruk misalnya, kita akan merasa orang lain pun seperti itu. Padahal tentu saja beda. Mungkin merekapun berfikir bahwa apa yang mereka pikirkan sama dengan apa yang kita pikirkan. Satu-satunya cara agar kita mengetahui pasti apa yang orang pikirkan dan orang tahu apa yang kita pikirkan adalah komunikasi.

Saya teringat suatu hari saya menge-pel asrama pada jam piket anak-anak, niat saya sebenarnya ingin membantu mereka. Tapi apa yang terjadi?, ternyata anak-anak malah mengira saya sedang tersinggung karena mereka terlambat piket hari itu. Padahal saya sungguh-sungguh hanya ingin membantu dan kasihan melihat mereka capek seharian. Akhirnya saya duduk dan menjelaskan, baru mereka ceria kembali.

Dari kejadian itu saya berfikir, bahkan niat baik sekalipun terkadang bisa menjadi asap tanpa api jika tanpa penjelasan. Kenapa? Lagi-lagi karena kita tak pernah tau apa yang orang lain pikirkan, begitu juga mereka tidak tahu apa yang kita pikirkan. Sangat bijaklah Sang Nabi ketika melarang kita berprasangka buruk, karena sebagian prasangka itu kebanyakan salah.

Sebuah hadits dalam kitab ash Shahihain dari Anas tentang kisah kunjungan yang dilakukan oleh Shafiyyah kepada Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam saat beliau i'tikaf di masjid pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. Lalu Rasul keluar bersama Shafiyyah untuk mengantarnya pulang. Kemudian beliau berpapasan dengan dua orang laki-laki dari kaum Anshar. Ketika melihat Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam, keduanya mempercepat jalannya maka Rasulullah bersabda: “Berjalanlah seperti biasa, karena sesungguhnya dia adalah Shafiyyah Binti Huyay.” Kemudian keduanya berkata: “Mahasuci Allah, wahai Rasulullah.” Beliaupun bersabda:
“Sesungguhnya syaitan itu mengalir dalam tubuh anak Adam seperti aliran darah. Dan sesungguhnya aku khawatir dia akan memasukkan sesuatu (keburukan) ke dalam hati kalian berdua.” (HR Bukhari)

Imam Syafi’i menjelaskan mengenai hadits tersebut,”jika kalian mengalami hal semacam itu, maka lakukanlah seperti yang dilakukan nabi. Jangan sampai orang lain menganggap kalian melakukan hal yang tidak baik. ini tidak berarti menuduh orang berprasangka, sebagaimana tidak mungkin Rasul menuduh kedua sahabat itu berprasangka. Akan tetapi menjaga agar jangan sampai muncul fitnah adalah hal yang utama.”

Artinya Rasul menutup kemungkinan prasangka (zhan) dengan berkomunikasi langsung dengan dua sahabat tersebut dan mengatakan bahwa beliau memang sedang bersama wanita (di malam hari) tapi itu adalah istri beliau sendiri, Shafiyyah.

Dalam makna pengertian, seperti yang kita bahas sebelumnya, ada belajar empati, ada introspeksi diri (bahasan ulat, kepompong, kupu-Kupu), dan ada pula komunikasi. Subhanallah, Agama ini mengajarkan agar kita tidak berprasangka pada orang lain, sekaligus menjaga agar orang lainpun tidak berprasangka pada kita dengan cara berkomunikasi bil ihsan (dengan cara yang baik pula). Dengan tidak berprasangka pada orang lain berarti kita berusaha mengisi kebaikan dalam apa yang kita pikirkan sekaligus berusaha berprilaku baik, agar ketika kita mencerminkan diri kita pada orang lain, yang tergambar hanyalah kebaikan mereka. Sedangkan menjaga agar tidak ada prasangka buruk dari kebaikan yang kita niatkan adalah keutamaan seperti yang dilakukan oleh nabi dan dijelaskan oleh imam Syafi’i. Wallahu ‘Alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar