Kamis, 05 Juli 2012

Melihat Yang Tak Terlihat


SERINGKALI kita terhijab dari pesan-pesan sejati Ilahi, karena silau dengan pemandangan sekitar. Bukan lingkungan, tren atau mode yang salah, tapi kitalah yang tidak mampu memilah dan menangkap pesan sejati karena perhatian kita lebih fokus pada apa yang terlihat. Kita lebih perhatian pada siapa yang menyampaikan dan semua tindak tanduknya dari pada pesan itu sendiri.
-------------------------------------------------------------------------------------
Suatu hari, Nu’man bin Qauqal bertanya pada Rasulullah,”Wahai nabi, jika aku melakukan shalat fardhu, berpuasa ramadhan, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, dan tiada lagi ku tambah atasnya, apakah aku akan masuk syurga?.” Rasulpun mengiyakan. (HR Muslim).

Kenyataannya amal shalih yang dilakukan oleh sahabat yang bertanya ini sama sekali tidak seminimalis pertanyaannya. Berdasarkan penjelasan Syeikh Muhammad Tatay dalam penjelasan makna hadits Arba’in, meski Nu’man bin Qauqal memiliki keterbatasan fisik (kondisi kaki beliau yang tidak sama dengan orang lain), beliau ‘nyaris’ mewajibkan amalan-amalan nafilah untuk dirinya, selalu melakukan apapun yang Rasul sunnahkan, dan istiqamah/komitmen dalam berbagai keutamaan amal. Bahkan beliau ikut dalam perang Badar dan syahid dalam perang Uhud. Padahal beliau memiliki keterbatasan dalam berjalan, tapi Amal beliau melampaui keterbatasan fisiknya bahkan berhasil menggapai syurga. Ketika beliau telah syahid, Rasul bersabda,”Sungguh telah kulihat dia bercengkrama dalam hijaunya syurga.”

Kisah ini yang juga terjadi pada jaman Rasul, adalah Julaibib, dipanggil demikian karna fisiknya yang kecil. Tak ada yang tahu siapa orang tua dan dari mana asal beliau. Tak bernasab dan bersuku adalah cacat sosial bagi masyarakat Yatsrib, ditambah dengan tampilan fisiknya yang bungkuk, hitam, dan terkesan sangar. Namun Allah berkehendak memberikan hidayahNya. Julaibib selalu berada di shaf terdepan dalam shalat maupun jihad. Ketika beliau meninggal, Rasul sendiri yang mengafani dan menshalatkan secara pribadi. Rasul berkata yang membuat iri seluruh makhluk,”Ya allah,dia adalah bagian dari diriku dan aku adalah bagian dari dirinya.”

Kisah para sahabat adalah keteladanan untuk tak mengeluh pada nasib, tak menyalahkan takdir dan tetap taat pada Allah dan Rasul. Seperti Nu’man bin Qauqal dengan keterbatasan beliau dan Julaibib yang hidup dengan pilihan-pilihan yang sangat terbatas. Tetap taat pada hal yang mungkin tidak kita suka adalah peluang berlimpahnya pahala dan Allah pasti tak menyia-nyiakan usaha hambaNya karena Dia Maha Tahu batas kemampuan kita. Seringkali ketidaksukaan kita adalah karena ketidaktahuan kita, bagian dari kebodohan kita dihadapanNya.
------------------------------------------------------------------------------------
Sore tadi seorang anak menemui saya dan menceritakan masalahnya. Saya cukup dekat dengannya, hingga apapun yang dihadapinya sering diceritakan pada saya. Dan cerita-ceritanya sering membuat saya berfikir ulang tentang banyak hal. Anak ini cerdas dan tegar padahal sering kali dia mendapat masalah yang cukup besar untuk anak seusianya. Tapi dia malah bilang, “ga apa-apa kalo Allah ga gampangin dapat sesuatu, ga apa-apa sering dikasih masalah. Kalo semuanya mudah dan ga ada masalah, nanti sekalinya dikasih ujian langsung masalah yang besar, takutnya langsung tumbang karena udah terbiasa dalam kemudahan. Justru takut kalo dikasih kemudahan terus, takutnya ternyata allah ga mau tegur-tegur lagi kalo kita buat kesalahan”. Subhanallah,luar biasa..mungkin memang ujian yang membuatnya tegar dan dewasa.

Tiba-tiba saya teringat, lebaran tahun lalu seseorang pernah mengatakan hal senada pada saya, “tertusuk duri, terinjak paku, terjepit pintu itu juga ampunan dosa kalo diniatkan”. Ah benar, justru masalah adalah bentuk kasih sayang Allah, diingatkan supaya kita tidak lalai. Bahkan segala kesenangan dan kemudahan pun hakikatnya sama saja dengan kesedihan dan kesusahan, sama-sama ujian. Apakah kita lalai atau tidak. Bersyukur atau tidak. Bersabar atau tidak.

*Untuk diriku, Lihatlah yang tidak terlihat dan kita akan menemukan bahwa tak ada tempat untuk kita mengeluh, karena tak sedetikpun Allah memberi kita alasan untuk tak bersyukur padaNya. Benar kata pepatah, “jangan lihat siapa yang berbicara tapi dengarkan kata-katanya. Ambillah kebenaran meski dari seorang anak kecil.”
-------------------------------------------------------------------------------------
Orang yang hanya memandang ke bawah, mudah merasa dia yang paling tinggi.
Orang yang hanya melihat ke atas, mudah merasa minder.
Orang yang memandang ke bawah dengan kasih sayang dan melihat ke atas dengan keikhlasan untuk belajar, akan merasa damai dalam perjalanan naik yang rendah hati.

-Mario Teguh-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar