Jumat, 06 Juli 2012

Membeningkan Visi


VISI, adalah tujuan yang mampu mengokohkan jiwa dan merambatkan cita. Disana ada mimpi, harapan, dan cita-cita kita. Visi bahkan lebih penting dari pada pengetahuan. Pengetahuan bersifat lampau, sudah berlalu, dan terbatas. Sedangkan visi adalah masa depan yang tak terbatas, begitu kata Albert Einstein. Visi lebih besar dari pada sejarah, lebih besar dari pada beban kita, lebih besar dari pada luka nestapa emosi kita di masa lalu. Kita mungkin tak tahu apa yang akan terjadi pada impian yang ingin kita gapai tersebut, sekitar kita mungkin masih gelap, tapi visilah yang bersinar terang di kejauhan dan memberi kita arah, membuat kita tetap berjalan ke arah impian meski harus merangkak, terantuk, terjerambab, dan terperosok. Lalu ada saat di antara berbagai kejatuhan itu di mana kita bisa berlari, meloncat, atau bahkan terbang.

Mereka yang punya keyakinan kuat pada visi, mimpi, dan tujuannya akan tertuntun, bahkan kesulitan sekalipun mampu memberinya jalan. Sedang mereka yang tak yakin pada visinya, tak punya tujuan yang ingin dicapai hanya akan berdiri, berjongkok, berputar-putar, dan gigit jari, lalu mencari-cari alasan. Bahkan alasan-alasan ini akan datang sendiri tanpa dicari. Karena akan selalu ada jalan yang mendaki, selalu ada laut yang membadai.

Kisah-kisah ini menjadi semangat luar biasa bagi saya. Adalah Muhammad A-Fatih, sultan muda berusia 23 tahun, sang penakluk Konstantinopel. Sejak kecil beliau sering mendengar sebuah hadist tentang seorang sahabat yang bertanya “manakah yang lebih dulu dibebaskan, Konstantinopel ataukah roma?.” Rasul menjawab,”kota Heraclius lebih dulu, yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pasukan, dan pemimpinnya adalah sebaik-baik panglima.”

Hadist ini membuat cita tujuh abad lalu itu bergemuruh di dadanya, menggelorakan impiannya, lalu berusaha memantaskan diri agar menjadi ‘sebaik-baiknya panglima’ atau setidaknya ‘sebaik-baiknya pasukan’. Beliau menjauhi kehidupan mewah istana, berguru pada para ulama, dan mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya. Sejak baligh sampai menjadi seorang sultan, beliau tak pernah meninggalkan shalat fardhu, puasa ramadhan, dan shalat malam, tak pernah khatam Al-Quran lebih dari sebulan, tak pernah kehilangan hafalan Qurannya, dan tak pernah meninggalkan puasa Ayyamul Bidh. Luar Biasa..visi menjadi ’pemimpin sebaik-baiknya pemimpin’ itu terwujud dengan ditaklukkannya Konstantinopel.

Kisah yang satu ini pun tak kalah mengobarkan semangat introspeksi diri. kisah tentang seorang pemuda biasa yang lahir dari keluarga miskin lagi pengungsi. Mimpinya adalah membebaskan tanah kelahirannya. Tak disangka, di usianya yang masih remaja, 16 tahun, beliau lumpuh. Namun bagi pemuda ini kelumpuhannya sama sekali tak mampu melumpuhkan mimpinya tersebut, bahkan kian berkobar. Perkenalkan nama beliau adalah Ahmad Yassin.

Lelaki ini ditakuti Israel, bukan karena fisiknya seperti Rambo. Beliau hanya seorang yang berkursi roda, yang bahkan bicara pun terbata-bata. Bertahun-tahun kemudian beliau berada dalam penjara Israel. Orang-orang mungkin bertanya, "apa bahayanya orang tua yang lumpuh dan berpenyakitan ini?", tapi inilah yang membuat Israel begitu ketakukan. Kekuatan jiwa yang membuat visi beliau begitu kokoh. Jiwa yang dipenuhi impian dan keyakinan pada janji Ilahi, hingga jasad yang rapuh itu bersinar bagaikan matahari. Membuat beliau begitu perkasa, begitu berwibawa di hadapan jutaan pasukan bersenjata lengkap berkendaraan lapis baja.

Saya membaca tentang visi dan kisah ini dari buku Jalan Cinta Para Pejuang goresan pena Salim A. Fillah. Subhanallah, gairah mereka adalah syurga. Kuatnya harapan dan keyakinan itu membuat motivasi mereka tak pernah mati. Rasa haru dan semangat terasa membuncah di hati saya. Kesadaran terkuak, selama ini saya belum melakukan apa-apa.

Dan Alangkah sedihnya cinta yang tak punya visi. Ia kecil, mengerdil. Tak melewati batas-batas syahwati. Tak melewati rasam-rasam emosi. Tak menjangkau ufuk-ufuk Ilahi. Ia hanya kenangan lama yang tak lebih dari jejak-jejak air mata. Kalaupun ada hari ini, ia hanya jadi rindu semalam, cemburu sepagi, dan tengkar sesiang.

Lalu apa visi, mimpi, dan harapan kita? Mungkin ada di antara kita yang tersengat dengan kata-kata, “ibu adalah sekolah pertama”, mereka yang sangat ingin mendidik generasi-generasi yang mengenal rabbnya sejak dini. Belajarlah dari kisah ini, lalu berusaha belajar memantaskan diri dengan cita-cita tersebut dan mendekatkan diri pada Allah sedekat-dekatnya. Sungguh hanya dengan visi yang besar, tinggi, dan bening kita bisa menyusul mimpi tersebut. Wallahu ‘Alam.
READ MORE - Membeningkan Visi

Memaknai hidup dengan ‘Pengertian’

"FASE tersulit dalam hidup bukanlah ketika tak ada seorangpun yang mengerti dirimu, tetapi justru pada saat kamu tidak mengerti dirimu sendiri.” Anonim.
-------------------------------------------------------------------------------------
Ya terkadang kita merasa tak dimengerti, padahal kitalah yang tak mengerti diri kita sendiri. Bagaimanalah orang lain mau mengerti kita dan bagaimana pula kita bisa mengerti orang lain, kalau kita bahkan tidak mengerti diri sendiri. Dan terkadang hal-hal yang menyakitkan justru mampu membuat seseorang menyadari apa yang dirasakannya. Kehilangan misalnya, terkadang justru mampu menjelaskan apa yang sesungguhnya kita rasakan.

Tanpa sadar kita menjadikan diri kita sebagai cermin terhadap orang lain. Kita merasa apa yang kita pikirkan sama dengan apa yang orang lain pikirkan. Kalau kita sering berprasangka buruk misalnya, kita akan merasa orang lain pun seperti itu. Padahal tentu saja beda. Mungkin merekapun berfikir bahwa apa yang mereka pikirkan sama dengan apa yang kita pikirkan. Satu-satunya cara agar kita mengetahui pasti apa yang orang pikirkan dan orang tahu apa yang kita pikirkan adalah komunikasi.

Saya teringat suatu hari saya menge-pel asrama pada jam piket anak-anak, niat saya sebenarnya ingin membantu mereka. Tapi apa yang terjadi?, ternyata anak-anak malah mengira saya sedang tersinggung karena mereka terlambat piket hari itu. Padahal saya sungguh-sungguh hanya ingin membantu dan kasihan melihat mereka capek seharian. Akhirnya saya duduk dan menjelaskan, baru mereka ceria kembali.

Dari kejadian itu saya berfikir, bahkan niat baik sekalipun terkadang bisa menjadi asap tanpa api jika tanpa penjelasan. Kenapa? Lagi-lagi karena kita tak pernah tau apa yang orang lain pikirkan, begitu juga mereka tidak tahu apa yang kita pikirkan. Sangat bijaklah Sang Nabi ketika melarang kita berprasangka buruk, karena sebagian prasangka itu kebanyakan salah.

Sebuah hadits dalam kitab ash Shahihain dari Anas tentang kisah kunjungan yang dilakukan oleh Shafiyyah kepada Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam saat beliau i'tikaf di masjid pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. Lalu Rasul keluar bersama Shafiyyah untuk mengantarnya pulang. Kemudian beliau berpapasan dengan dua orang laki-laki dari kaum Anshar. Ketika melihat Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam, keduanya mempercepat jalannya maka Rasulullah bersabda: “Berjalanlah seperti biasa, karena sesungguhnya dia adalah Shafiyyah Binti Huyay.” Kemudian keduanya berkata: “Mahasuci Allah, wahai Rasulullah.” Beliaupun bersabda:
“Sesungguhnya syaitan itu mengalir dalam tubuh anak Adam seperti aliran darah. Dan sesungguhnya aku khawatir dia akan memasukkan sesuatu (keburukan) ke dalam hati kalian berdua.” (HR Bukhari)

Imam Syafi’i menjelaskan mengenai hadits tersebut,”jika kalian mengalami hal semacam itu, maka lakukanlah seperti yang dilakukan nabi. Jangan sampai orang lain menganggap kalian melakukan hal yang tidak baik. ini tidak berarti menuduh orang berprasangka, sebagaimana tidak mungkin Rasul menuduh kedua sahabat itu berprasangka. Akan tetapi menjaga agar jangan sampai muncul fitnah adalah hal yang utama.”

Artinya Rasul menutup kemungkinan prasangka (zhan) dengan berkomunikasi langsung dengan dua sahabat tersebut dan mengatakan bahwa beliau memang sedang bersama wanita (di malam hari) tapi itu adalah istri beliau sendiri, Shafiyyah.

Dalam makna pengertian, seperti yang kita bahas sebelumnya, ada belajar empati, ada introspeksi diri (bahasan ulat, kepompong, kupu-Kupu), dan ada pula komunikasi. Subhanallah, Agama ini mengajarkan agar kita tidak berprasangka pada orang lain, sekaligus menjaga agar orang lainpun tidak berprasangka pada kita dengan cara berkomunikasi bil ihsan (dengan cara yang baik pula). Dengan tidak berprasangka pada orang lain berarti kita berusaha mengisi kebaikan dalam apa yang kita pikirkan sekaligus berusaha berprilaku baik, agar ketika kita mencerminkan diri kita pada orang lain, yang tergambar hanyalah kebaikan mereka. Sedangkan menjaga agar tidak ada prasangka buruk dari kebaikan yang kita niatkan adalah keutamaan seperti yang dilakukan oleh nabi dan dijelaskan oleh imam Syafi’i. Wallahu ‘Alam
READ MORE - Memaknai hidup dengan ‘Pengertian’

Kamis, 05 Juli 2012

Melihat Yang Tak Terlihat


SERINGKALI kita terhijab dari pesan-pesan sejati Ilahi, karena silau dengan pemandangan sekitar. Bukan lingkungan, tren atau mode yang salah, tapi kitalah yang tidak mampu memilah dan menangkap pesan sejati karena perhatian kita lebih fokus pada apa yang terlihat. Kita lebih perhatian pada siapa yang menyampaikan dan semua tindak tanduknya dari pada pesan itu sendiri.
-------------------------------------------------------------------------------------
Suatu hari, Nu’man bin Qauqal bertanya pada Rasulullah,”Wahai nabi, jika aku melakukan shalat fardhu, berpuasa ramadhan, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, dan tiada lagi ku tambah atasnya, apakah aku akan masuk syurga?.” Rasulpun mengiyakan. (HR Muslim).

Kenyataannya amal shalih yang dilakukan oleh sahabat yang bertanya ini sama sekali tidak seminimalis pertanyaannya. Berdasarkan penjelasan Syeikh Muhammad Tatay dalam penjelasan makna hadits Arba’in, meski Nu’man bin Qauqal memiliki keterbatasan fisik (kondisi kaki beliau yang tidak sama dengan orang lain), beliau ‘nyaris’ mewajibkan amalan-amalan nafilah untuk dirinya, selalu melakukan apapun yang Rasul sunnahkan, dan istiqamah/komitmen dalam berbagai keutamaan amal. Bahkan beliau ikut dalam perang Badar dan syahid dalam perang Uhud. Padahal beliau memiliki keterbatasan dalam berjalan, tapi Amal beliau melampaui keterbatasan fisiknya bahkan berhasil menggapai syurga. Ketika beliau telah syahid, Rasul bersabda,”Sungguh telah kulihat dia bercengkrama dalam hijaunya syurga.”

Kisah ini yang juga terjadi pada jaman Rasul, adalah Julaibib, dipanggil demikian karna fisiknya yang kecil. Tak ada yang tahu siapa orang tua dan dari mana asal beliau. Tak bernasab dan bersuku adalah cacat sosial bagi masyarakat Yatsrib, ditambah dengan tampilan fisiknya yang bungkuk, hitam, dan terkesan sangar. Namun Allah berkehendak memberikan hidayahNya. Julaibib selalu berada di shaf terdepan dalam shalat maupun jihad. Ketika beliau meninggal, Rasul sendiri yang mengafani dan menshalatkan secara pribadi. Rasul berkata yang membuat iri seluruh makhluk,”Ya allah,dia adalah bagian dari diriku dan aku adalah bagian dari dirinya.”

Kisah para sahabat adalah keteladanan untuk tak mengeluh pada nasib, tak menyalahkan takdir dan tetap taat pada Allah dan Rasul. Seperti Nu’man bin Qauqal dengan keterbatasan beliau dan Julaibib yang hidup dengan pilihan-pilihan yang sangat terbatas. Tetap taat pada hal yang mungkin tidak kita suka adalah peluang berlimpahnya pahala dan Allah pasti tak menyia-nyiakan usaha hambaNya karena Dia Maha Tahu batas kemampuan kita. Seringkali ketidaksukaan kita adalah karena ketidaktahuan kita, bagian dari kebodohan kita dihadapanNya.
------------------------------------------------------------------------------------
Sore tadi seorang anak menemui saya dan menceritakan masalahnya. Saya cukup dekat dengannya, hingga apapun yang dihadapinya sering diceritakan pada saya. Dan cerita-ceritanya sering membuat saya berfikir ulang tentang banyak hal. Anak ini cerdas dan tegar padahal sering kali dia mendapat masalah yang cukup besar untuk anak seusianya. Tapi dia malah bilang, “ga apa-apa kalo Allah ga gampangin dapat sesuatu, ga apa-apa sering dikasih masalah. Kalo semuanya mudah dan ga ada masalah, nanti sekalinya dikasih ujian langsung masalah yang besar, takutnya langsung tumbang karena udah terbiasa dalam kemudahan. Justru takut kalo dikasih kemudahan terus, takutnya ternyata allah ga mau tegur-tegur lagi kalo kita buat kesalahan”. Subhanallah,luar biasa..mungkin memang ujian yang membuatnya tegar dan dewasa.

Tiba-tiba saya teringat, lebaran tahun lalu seseorang pernah mengatakan hal senada pada saya, “tertusuk duri, terinjak paku, terjepit pintu itu juga ampunan dosa kalo diniatkan”. Ah benar, justru masalah adalah bentuk kasih sayang Allah, diingatkan supaya kita tidak lalai. Bahkan segala kesenangan dan kemudahan pun hakikatnya sama saja dengan kesedihan dan kesusahan, sama-sama ujian. Apakah kita lalai atau tidak. Bersyukur atau tidak. Bersabar atau tidak.

*Untuk diriku, Lihatlah yang tidak terlihat dan kita akan menemukan bahwa tak ada tempat untuk kita mengeluh, karena tak sedetikpun Allah memberi kita alasan untuk tak bersyukur padaNya. Benar kata pepatah, “jangan lihat siapa yang berbicara tapi dengarkan kata-katanya. Ambillah kebenaran meski dari seorang anak kecil.”
-------------------------------------------------------------------------------------
Orang yang hanya memandang ke bawah, mudah merasa dia yang paling tinggi.
Orang yang hanya melihat ke atas, mudah merasa minder.
Orang yang memandang ke bawah dengan kasih sayang dan melihat ke atas dengan keikhlasan untuk belajar, akan merasa damai dalam perjalanan naik yang rendah hati.

-Mario Teguh-
READ MORE - Melihat Yang Tak Terlihat

Selasa, 03 Juli 2012

Mencintai Adalah Pilihan


"DALAM makna memberi itu posisi kita sangat kuat. Kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan atau lemah dan melangkolik saat kandas karena takdirNya. Sebab di sini kita justru sedang melakukan sebuah “pekerjaan jiwa” yang besar dan agung, MENCINTAI.

Ukuran kesejatian cintamu adalah apa yang kamu berikan padanya untuk membuat kehidupannya menjadi lebih baik. maka kamu adalah air, maka kamu adalah matahari. Ia tumbuh dan berkembang dari siraman airmu. Ia besar dan berbuah dari sinarmu."

M. Anis Matta

-----------------------------------------------------------------------------------
Cinta menjadi tak sederhana ketika cinta yang kita maksud adalah persoalan “dicintai”. Kata kerja yang diawali “di” menunjukkan sikap pasif, sesuatu yang diluar kendali penuh jiwa kita. “dicintai” berarti menunggu “diberi” cinta. Padahal kita ‘dicintai’ atau tidak bukanlah sesuatu yang bisa kita paksakan. Dunia diluar kita punya perasaan sendiri dalam memutuskan siapa yang dicintai atau tidak. Sedangkan kata kerja yang diawali “me” menunjukkan sikap “memberi”. Maka mencintai adalah keputusan kita.

Ketika kita membalikkan kata ‘dicintai’ menjadi ‘mencintai’, maka kita sendirilah yang menjadi 'nakhoda' diri kita sendiri, karena mencintai berada dalam kendali penuh jiwa merdeka kita, karena makna “mencintai” adalah “memberi”. Bahkan kita sendiri yang memilih bagaimana mengatur perasaan kita agar tak kecewa, tak merasa terhina karena penolakan. Kalau ‘mencintai’ saja sudah cukup membahagiakan, maka tak lagi risau jikapun tak ‘dicintai'. Kitalah yang memilih pikiran kita sendiri dan berusaha hanya mengisinya dengan prasangka baik, karena setiap pilihan akan ada pertanggungjawaban di hadapanNya.

Lalu, cinta harus selalu dimahkotai dengan cahaya iman, sehingga kita tak menuntut lebih dan tak merasa memiliki, karena percaya pada kebaikan-kebaikan dari semua ketentuan Allah. Rasa memiliki terkadang membawa kelalaian dan memabukkan. Dan sejatinya kita memang tak memiliki apapun didunia ini. Belajar dari kisah Nabi Ibrahim ketika Allah perintahkan beliau untuk meninggalkan Ibunda Hajar dan Ismail. Hati mungkin bergejolak tak tega, mengingat anak yang dinanti bertahun-tahun lamanya harus ditinggalkan digurun tandus tak berpenghuni bersama istri tercinta. Tapi gejolak itu menjadi keteguhan, nabi Ibrahim telah membuktikan cintanya pada Allah. Begitu pula ibunda Hajar ketika mengatakan, "kalau ini perintah Allah, maka Dia tak kan pernah meninggalkan kami." kalimat ini menjadi proklamasi iman sepanjang masa. Kelak dari sinilah lahir amalan-amalan dalam ibadah Haji. Cahaya iman yang menjadikan cinta bersujud di mihrab taat pada sang Khalik, hingga meloncati perasaan dan emosi-emosi dalam diri.

Bahwa“Cinta adalah kata kerja karena itu perlu pengorbanan, sebagaimana cinta kepada Allah tak langsung mengisi hati kita melainkan butuh usaha dan upaya untuk meraihnya. Cinta memang harus diupayakan, sehingga menjadi tak relevan ketika ada seorang suami yang mengatakan “aku sudah tak mencintaimu lagi.” Justru karena kau tak mencintainya lagi, maka cintailah dia. Karena cinta adalah kata kerja. Lakukanlan kerja jiwa raga untuk mencintainya.” (Salim A. Fillah-Jalan Cinta Para pejuang) Ya..Karena cinta adalah pilihan.

Wallahu 'Alam
READ MORE - Mencintai Adalah Pilihan

Senin, 02 Juli 2012

Wanita, Jangan Letakkan Harga Dirimu Pada Mahar

TERTARIK membahas judul ini setelah semalam ngobrol ngalur ngidul dengan seorang sahabat. Dia cerita, di daerahnya sekarang sedang ngetren “mahar berdasarkan tingginya pendidikan atau strata keluarganya”. Mungkin sudah sejak lama cerita-cerita ini beredar, hanya saya saja yang ga gaul, hehe..

Bagi saya pribadi tren ini mencengangkan sekaligus menggelikan, bagaimana mungkin seorang wanita diberi harga sesuai dengan tingkat pendidikannya atau seperti cerita teman saya itu, ada orang tua yang mengatakan “kami sudah menyekolahkan anak kami setinggi ini, jadi wajar kalo maharnya tinggi juga”. Lha, kenapa pula calon suaminya yang tidak tahu menahu ini dijadikan ‘tumbal’? bukankah memang kewajiban orang tua untuk mendidik anak-anaknya?. Lagi pula mereka yang hendak menikah ini akan mengarungi perjalanan panjang, dari pada ‘dihamburkan’ di awal bukankah lebih baik dijadikan bekal di kemudian hari?. Teman saya ini bilang, “padahal mungkin nanti Allah akan bukakan pintu rejeki mereka, sehingga sang suami malah bisa memberi lebih dari yang diminta saat ini.” yups..setuju banget, rezeki setiap manusia sudah diatur oleh Allah.

Mengenai hal ini, Rasulullah sendiri telah mengingatkan para wali agar,“Jangan mempersulit wanita-wanita yang dalam perwalianmu dengan mahar yang tinggi. Mudahkanlah, niscaya akan kamu dapati barakahnya. karena dengan meringankan mahar dan memberi jalan mudah untuk pernikahannya akan memperindah akhlak wanita itu. Namun sebaliknya, adalah keburukan jika kamu memberatkan maharnya wanita tersebut dan menyukarkan pernikahannya, karena dapat menyebabkan akhlaknya menjadi buruk.”

Tujuan pernikahan dalam Islam adalah untuk membentengi manusia dari perbuatan buruk, memelihara pemuda dari kerusakan serta melindungi masyarakat dari kekacauan. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi), menegakkan syari’at Islam dalam rumah tangganya agar terbentuk generasi yang bertaqwa kepada Allah SWT. Selain itu juga memperoleh keberkahan hidup. Semua tujuan tersebut dapat diperoleh jika sejak awal kita mengikuti anjuran Allah dan Rasulnya.

Rasulullah bersabda, “Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka, dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (Hadits Riwayat Ahmad, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim dari shahabat Abu Hurairah RA).

Kembali ke permasalahan mahar, ada baiknya kita tinjau kembali masalah ini sesuai dengan tuntunan Rasul dan teladan para sahabat. Pada masa Rasul ada beberapa kisah yang menggambarkan kesederhanaan mahar, satu dirham atau sebuah cincin besi kalau memang tidak memungkinkan untuk memberi yang lebih, sudah cukup untuk menjadi maskahwin yang layak bagi sebuah pernikahan, atau baju besi seperti saat Ali bin Abi Thalib menikahi Fathimah binti Rasulillah, atau Ummu Sulaim yang mengatakan,“Islammu, itulah maharku”, saat akan dinikahi oleh Abu Thalhah. Hadits-hadits yang meriwayatkan kisah-kisah ini diwarnai dengan keridhaan dari para wanita agung itu sendiri.

Saya tidak mengatakan bahwa semua wanita harus hanya menerima terompah seperti seorang wanita fuzarah atau segenggam tepung sebagai maharnya. Tapi sebaiknya kita mengingat kembali pesan Rasulullah bahwa “Seorang wanita yang penuh barakah dan mendapat anugerah Allah, adalah yang maharnya mudah dan akhlaknya baik. Namun sebaliknya, wanita yang celaka adalah yang sulit maharnya dan buruk akhlaknya.” Kita akan melihat bahwa ‘mahar yang kecil’, ‘mahar yang berlebihan’, dan ‘mahar yang mudah’ tidaklah sama. Perbedaannya adalah pada kemampuan, keridhaan kedua pihak dan juga barakah yang diperoleh setelahnya.

Di hari-hari menjelang wafatnya, Rasulullah mengingatkan,”Barangsiapa menikahi seorang perempuan dengan harta yang halal, tetapi menginginkan kemegahan dan kesombongan, Allah tidak akan memberinya bekal kecuali kehinaan dan kerendahan. Sesuai dengan kadar kesenangannya, Allah akan menyuruhnya berdiri di tepian jahannam dan kemudian jatuh ke dalamnya sejauh tujuh puluh kharif (ukuran panjang).”

Tuntunan Islam tentang mahar ini sangat menentramkan. Jika ada kisah wanita Fuzarah yang ridha menikah dengan mahar berupa sepasang terompah (HR Abu Daud dan Tirmidzi), ada pula kisah tentang ’Abdurrahman bin ‘Auf yang memberi mahar satu nawat emas ketika menikah. Satu nawat, kata Shaleh bin Ghanim As-Sadlan, bagi penduduk Madinah adalah seperempat dinar. Rasulullah sendiri memberi mahar kepada setiap istri beliau sebesar 500 dirham (HR Muslim, Abu Daud dan An-Nasa’i), kecuali Ummu Habibah yang mendapat mahar lebih karena Raja Najasy yang membayarkan maharnya, bukan Rasulullah (HR Abu Daud, An-Nasa’i dan Ahmad).

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, mengatakan:
“Hadis-hadis itu mengandung ajaran bahwa mahar tidak ditetapkan batas minimumnya, segenggam gandum, sebuah cincin besi, dan sepasang terompah pun dapat dijadikan sebagai mahar dan sah pernikahannya. Sebaliknya berlebihan dalam mahar makruh hukumnya dalam pernikahan dan mengurangi barakah perkawinan.”

Memberatkan mahar dapat membuat pernikahan menjadi kehilangan barakahnya, Ikatan mereka bukan lagi al-’athifah (jalinan perasaan), melainkan serangkaian kewajiban untuk memenuhi tanggung jawab hukum dan sosial. ‘Abdul Hamid Kisyik, seorang ulama Mesir, berkata, “Jika mahar dibuat mahal, akhirnya menyebabkan kerusakan dan keresahan di muka bumi. Hal ini tidak lagi maslahat untuk ummat. Karena itu, wanita yang paling sedikit maharnya justru memiliki keagungan dan akan mendapat kebarakahan yang amat besar.”

Sebaliknya, berlebih-lebihan dalam mahar dikhawatirkan membawa madharat karena akan menjadi tradisi. Tindakan ini kemudian membentuk persepsi umum tentang status sosial, stratifikasi sosial, pola interaksi, serta prasangka social, sementara para pemudanya menjadi takut menikah. Sayyidina ‘Ali mengingatkan,“Jangan berlebih-lebihan dengan mahar wanita, sebab hal itu akan menyebabkan permusuhan.”

Rasulullah sendiri melarang pihak laki-laki berlebih-lebihan dalam mahar apalagi diluar kemampuannya. Baik mahar Rasulullah s.a.w. maupun ‘Abdurrahman bin ‘Auf, nilainya mencapai 500 dirham. Jumlah ini tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil menurut ketentuan masyarakat yang berlaku saat itu dan pastinya sesuai dengan kemampuan. Abdurrahman bin Auf sendiri masa itu adalah seorang pedagang besar.

Suatu hari seorang laki-laki datang kepada Rasul memberikan bahwa dia telah menikah dengan seorang wanita Anshar dan mahar yang diberikan adalah 4 Uqiyah. (Syaikh Mansur Ali Nashif mengatakan bahwa 1 uqiyah sama dengan 40 dirham). Rasul kemudian berkata, “Empat uqiyah? Seolah kamu mengukir perak pada permukaan gunung ini…” (HR Muslim). Imam An-Nawawi menjelaskan makna hadits tersebut dalam Syarah Sahih Muslim, bahwa,“Ungkapan ini memberi makna makruh memberi mahar melebihi kemampuan yang dimiliki suami pada saat pernikahan.”

Jadi, sebaik-baik mahar adalah ‘yang dimudahkan’, yaitu yang diberikan dan diterima dengan kerelaan kedua belah pihak. Artinya sesuai dengan kemampuan suami dan keridhaan istri terutama ketika mahar yang diberikan jauh lebih kecil daripada kebiasaan yang berlaku jika suami tidak mampu. Serta tidak dianjurkan pula berlebih-lebihan dalam memberikan mahar apalagi diluar kemampuan pihak laki-laki. Kalaupun pihak laki-laki tersebut mampu memberikan melebihi mahar yang berlaku dalam masyarakat, ada baiknya menahan diri. Kelak, ia bisa memberikannya sebagai hadiah kepada istrinya. Ini akan menambah kasih sayang di antara keduanya.

Ketika pernikahan berlangsung melalui proses yang sederhana dengan mahar yang ringan, insyaallah akan tumbuh kasih sayang dan penerimaan dalam hati suami. Sedangkan pada istri akan timbul keridhaan dan kesetiaan. Pada mahar yang ringan, ada kekayaan jiwa yang menenteramkan. Rasulullah s.a.w. bersabda, “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya akan jiwa.” (Muttafaqun ’alaihi), ada kepercayaan tentang ketulusan cinta dan kesediaan istri untuk berjuang bersama-sama. Seperti ketika Ummu Sulaim mengatakan tidak meminta apa-apa kecuali keislaman Abu Thalhah, yang terkesan bukanlah keinginan calon istri untuk kepentingan dirinya sendiri. Tapi lebih besar dari itu yaitu misi keselamatan bagi keduanya di dunia dan akhirat.

Karena itu wanita, jangan letakkan harga dirimu pada mahar, mudahkanlah agar menjadi sebaik-baik wanita. Mahar adalah hadiah. Sedangkan hadiah dapat menumbuhkan dan menguatkan perasaan sayang dan cinta-kasih. Rasulullah mengatakan,“Berikanlah hadiah, itu akan menumbuhkan dan memperkuat rasa cinta.” Yakinlah, apapun anjuran Allah dan Rasul pastilah membawa kebaikan. Saat taat melewati batas perasaan suka dan tidak suka, allah akan bukakan jalan keluar dari masalah yang di luar kuasa kita. Saat ridha dan barakahNya hadir, akan mempermudah datangnya pertolongan Allah di saat kita merasa sulit.

Seperti yang dikatakan Salim A. Fillah (Jalan Cinta Para Pejuang), “Barakah akan memberi nuansa lain, akan mendewasakan ketika menghadapi tantangan-tantangan baru, membawa kebahagiaan di hati, kelapangan di dada, dan kejernihan di akal. Memberi ketenangan ketika menghadapi badai, membawa senyuman meski air mata menitik-nitik, menyergap rindu di tengah kejengkelan, menyediakan rengkuhan dan belaian lembut saat dada sesak oleh masalah.” Wallahu ‘Alam
READ MORE - Wanita, Jangan Letakkan Harga Dirimu Pada Mahar

Minggu, 01 Juli 2012

Fihi Khair - Selalu Ada Kebaikan


SEPERTI biasa anak-anak datang ketempat saya dengan bermacam ragam keperluan. Ada yang sakit, minta ijin berobat, curhat, dll, terkadang mereka datang hanya sekedar bercerita tentang apa yang mereka pelajari dan alami hari ini. Saya pribadi sangat menikmati saat bersama anak-anak ini dalam kondisi apapun:) Termasuk cerita-cerita mereka yang justru banyak memberi pelajaran untuk diri saya sendiri. Salah seorang dari mereka bercerita ulang tentang sebuah kisah yang menurut saya sarat makna.

Alkisah seorang penasehat di penjarakan oleh sang raja karena sering kali mengatakan “fihi khair-selalu ada kebaikan di dalamnya” bahkan ketika jari raja terpotong. Sang raja lalu pergi berburu bersama pasukannya. Tiba-tiba mereka di tangkap oleh segerombolan kanibal yang kemudian memilih raja untuk dijadikan tumbal. Namun akhirnya mereka melepaskan sang raja saat melihat jarinya yang terpotong, karena mereka hanya memilih yang terbaik untuk dijadikan persembahan.

Sang raja pulang ke istana dengan perasaan bersyukur dan berkata pada penasehatnya “kamu benar memang ada kebaikan dari jari saya yang terpotong, lalu apa kebaikan bagi kamu sendiri? Dari kemarin kamu kan saya penjara?”. Penasehat tersebut tersenyum dan menjawab, “fihi khair, seandainya saya ikut berburu dengan raja, ketika raja dilepaskan, bukankah tumbal selanjutnya adalah saya?”.
-------------------------------------------------------------------------------------
Benar, selalu ada kebaikan di setiap kejadian yang kita alami. Allah tidak pernah mendatangkan bahaya bagi makhlukNya, semua perbuatanNya adalah demi kebaikan meskipun secara lahiriah tampak seperti musibah.

Fihi khair..Tak ada yang kebetulan atau sia-sia. Baik-buruk tidak selalu seperti yang terlihat. Allah menciptakan segala sesuatu dengan seimbang, kemudahan dan kesusahan masing-masing ada jatahnya, agar jiwa manusia seimbang. Kesedihan dan kemunduran tidak selamanya buruk, terkadang ia menjadi dorongan untuk maju. Ibarat anak panah yang ditarik mundur untuk kemudian melesat jauh ke depan. Sebaliknya kesenangan terus menerus belum tentu baik, terkadang ia seperti gelas panas yang ketika tiba-tiba dituang air dingin langsung pecah dan selalu berada dalam kemudahan terkadang membuat jiwa kita jadi tidak siap menghadapi cobaan.

Semua ketentuan Allah adalah baik. Keterbatasan pengetahuanlah yang membuat kita menilai sesuatu itu baik atau buruk, beruntung atau tidak. Wallahu 'Alam
READ MORE - Fihi Khair - Selalu Ada Kebaikan

Minggu, 17 Juni 2012

Ibu; Pendidik Pertama


SEDIKIT menyinggung bahasan sebelumnya tentang kualitas dan kuantitas waktu, menurut saya pribadi, waktu berkualitas (quality time) ada di jumlah waktu (quantity time) itu sendiri. 24 jam sehari sejak mereka lahir, kanak-kanak, remaja, dan dewasa. Bukankah orang tua adalah role contoh teladan bagi anak-anaknya? Bahkan seorang ibu adalah pendidik pertama, guru yang melebihi guru manapun, sekolah yang tak pernah libur. Lalu, bagaimana seorang ibu akan membentuk anak-anaknya, jika kualitas waktu yang dimaksud hanyalah sisa-sisa hari setelah lelah bekerja diluar rumah sepanjang hari atau sisa-sisa weekend dalam seminggu?.

Saya tidak mengatakan para ibu tidak boleh membantu keuangan suami mereka atau tidak melakukan pekerjaan rumah sama sekali selain merawat anaknya, masalah membagian waktu bukanlah persoalan yang kita bahas disini. Tapi, kalau niatnya adalah membantu, ada banyak hal yang bisa dikerjakan dirumah yang juga menghasilkan uang tanpa harus seharian berada di luar rumah. Pada dasarnya tugas seorang ibu sangat mulia, jauh lebih besar dari pada sekedar mencari uang. Para ibu menyelamatkan dunia dari kerusakan moral dengan mendidik anak-anaknya, mendidik generasi berakhlak mulia.

Seorang penyair berkata:
ibu adalah madrasah jika kamu menyiapkannya
Maka dia akan menyiapkan generasi berkarakter baik,
Apabila para ibu tumbuh dalam ketidaktahuan
Maka anak-anak akan menyusu kebodohan dan keterbelakangan.


Beberapa wanita di negara barat bahkan gencar menyuarakan pentingnya menjadi ibu rumah tangga setelah mereka merasakan pahitnya resiko dari meninggalkan anak-anak dengan keluar rumah. Mereka mengakui nilai-nilai positif dari seruan Islam kepada para wanita agar tetap di rumah. Adakah ibu muslimah mengambil pelajaran?

Proses pendidikan ini bahkan di mulai sejak anak masih berupa janin. Para ahli mengatakan, ketika janin berusia 4,5 bulan dalam kandungan ibunya, indra pendengarannya telah sempurna menangkap suara-suara yang dihasilkan dari dalam tubuh sang ibu. Tak heran jika kemudian kita mendengar kisah para sahabat seperti Imam Syafi’i yang sejak kecil beliau diasuh dan dibesarkan oleh ibunya sendiri, dalam usia 9 tahun sudah menghafal seluruh isi Al-Qur’an dengan lancar. Atau seperti Imam At-Thabari yang telah menghafal Al-Quran ketika berumur 7 tahun dan memulai pencatatan hadits sejak usia 9 tahun. Sejak kecil mereka sudah gigih menuntut ilmu dan merenungkan kejadian-kejadian yang ada disekelilingnya sehingga hatinya peka terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah. Semua ini tak mungkin lepas dari peran orang tua, khususnya ibu.

Itulah sebabnya, saat hamil seorang wanita harus menjaga kondisi emosionalnya serta dianjurkan untuk menjaga ucapan, pandangan, pendengaran, dan makanan disamping juga menjaga kesehatannya. Para ibu sebaiknya membiasakan memperdengarkan Alquran pada anaknya sejak dalam kandungan, hingga ketika lahir sang anak menjadi peka ketika mendengar alquran karena telah terbiasa.

Terus berlanjut ketika para bayi itu beranjak menjadi kanak-kanak, Masa ini adalah masa pembentuka dimana orang tua mengajarkan mereka untuk mengerti mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak. Kebiasaan-kebiasaan baik seperti kedisiplinan, meletakkan mainan, membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan, membantu pekerjaan rumah, dan lain-lain diajar sejak usia ini. Terkesan seperti pelajaran PPKN yak,,hehe.. tapi hal ini bisa dibentuk dengan pengawasan terus menerus dari seorang ibu. Kebiasaan menghibur anak dengan televisi ketika menangis atau membiarkan mereka sepanjang hari bergantung pada tivi dan HP tanpa pengawasan adalah bahaya besar, karena mereka akan belajar pada benda tersebut. Menganggap idola dan teladan mereka ada disana. Lupa pada keteladanan yang diwariskan para Nabi dan Sahabat.

Di usia remaja, pengawasan mereka mungkin berbentuk kedekatan orang tua dengan anak. Di usia ini mereka membutuhkan ‘sahabat’ yang nyaman untuk berbagi banyak hal (curhat). Kita tentu tak ingin para remaja ini mengambil saran dari pergaulan yang merusak. Baik Rasulullah maupun para Imam Maksum Ahlul Bait dalam banyak kesempatan menekankan untuk memilih sahabat dan kawan dengan benar. Rasul bersabda, “Manusia beragama seperti sahabatnya, Karena itu, hendaknya dia teliti dengan siapa dia menjalin persahabatan.” Hadis ini menerangkan sejauh mana pengaruh seorang kawan sehingga bisa mempengaruhi keberagamaan sahabatnya. Bahkan Allah juga menegaskan, "Pada hari itu orang yang zalim menggigit tangannya (jari) dengan penuh penyesalan sambil berkata alangkah baiknya kalau aku dahulu menurut ajaran Rasul Allah. Wahai alangkah baiknya kalau aku tidak menjadikan si anu sebagai sahabat karib. Ia telah menyesatkan aku dari mengingati pesanan (Allah) setelah peringatan itu datang. Memang syaitan akan melepaskan diri dari kejahatannya terhadap manusia." (Al-Furqan: 27-29)

Allah berfirman dalam surat al-Zukhruf:67, “Pada hari kiamat kelak) orang yang bersahabat saling bermusuhan di antara satu sama lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa." Rasul juga mengingatkan bahwa, "Seseorang itu dikenali berdasarkan sahabatnya, maka berwaspadalah / bersikap bijaksanalah dalam memilih sahabat." (Riwayat Ahmad). Dalam hal ini peran orang tua sangat dibutuhkan. khususnya ibu yang selalu berada dekat dengan anak-anaknya, membimbing mereka agar mampu menjaga diri dalam pergaulan serta memilih sahabat dan lingkungan yang baik. Ini bukan berarti para remaja lalu dilarang bergaul, hanya saja di usia pancaroba ini para remaja perlu diiingatkan, diarahkan, dirangkul, dan diperlakukan seperti seorang ‘sahabat’. Hingga saat mereka membutuhkan orang lain untuk mendengarkan curhat atau keluh kesahnya, mereka tahu di rumah ada sang ibu penuh kasih sayang yang siap mendengarkan dan memberi saran yang baik.

Membiarkan mereka seharian di warnet atau main Play Station di rumah adalah bahaya besar. Membiarkan mereka bersenang-senang sepanjang hari tanpa didikan pemahaman agama yang benar, tanpa belajar kedisiplinan dan kerja keras, tanpa penjelasan tentang makna hidup, tanpa pendampingan dimasa pencarian jati dirinya, sama saja dengan membiarkan mereka tersesat di kemudian hari. Kita tentu tak ingin biarkan anak-anak terlalu lama mengenal Rabbnya.

Karena itu, Ibu adalah “madrasatun ula”, pendidik pertama dari awal pembentukan hingga dewasa. Sejak kecil mereka memperkenalkan Allah pada anak-anaknya, terus menerus mengingatkan mereka hingga tertanam kuat sampai dewasa dan menjadi pelita dalam kehidupan anak-anak mereka selanjutnya. Wallahu ‘alam
------------------------------------------------------------------------------------
"Ya Rabb, segala shalat dan puasa kami yang Engkau terima dan Engkau berkahi, segala zakat dan sedekah kami yang Engkau terima dan Engkau berkahi, serta segala amal kami yang akan engkau beri balasan kebajikan, berikanlah balasan bagi orang tua kami dengan yang lebih besar dari pada yang kami terima, jadikanlah kami orang2 yang selalu melaksanakan perintahMu agar balasan untuk kedua orang tua kami Engkau lipat gandakan lebih dari apa yang kami lakukan untuk mereka dan untuk diri kami sendiri, sayangilah mereka ya rabb melebihi kasih sayang mereka kepada kami di waktu kecil, amin”
READ MORE - Ibu; Pendidik Pertama

Jumat, 08 Juni 2012

Euro 2012: Pemain VS Penonton

SEPERTI biasa euphoria saat euro terasa dimana-mana, para pemain siap berlaga dengan persiapan prima demi membela negara masing-masing. Para football mania pun tak kalah hebohnya. Ibarat permainan, begitu pula dalam kehidupan, ada yang memilih menjadi pemain dan ada pula yang hanya menjadi penonton.

Hidup adalah pilihan, dan setiap pilihan ada konsekuensinya.
Menjadi pemain berarti harus mempersiapkan fisik dan mental untuk bertahan di lapangan. Sementara, para penonton hanya ramai mengikuti perkembangan tim andalan mereka.

Para pemain harus berusaha semaksimal mungkin, ada rasa gembira ketika berhasil menjebol gawang lawan dan kecewa ketika gagal, tapi tetap harus berlari menjemput bola sampai waktu yang ditentukan. Sedang, para penonton bersorak sorai memberi semangat atau bahkan menghujat wasit dan para pemain.

Pemain harus siap banyak berlatih dan mengorbankan waktu istirahatnya. Sementara penonton hanya perlu meluangkan waktu ketika pertandingan di mulai.

Menjadi pemain mungkin akan banyak berkeringat, terjatuh, mengeluarkan banyak energi dan bahkan cidera. Sementara penonton hanya duduk manis dan mengomentari. Tertawa, berteriak, bertepuk tangan atau mengumpat di pinggir lapangan.

Menjadi penonton memang lebih mudah, TAPI...
Sekeras Apapun penonton berteriak, penonton tidak akan bisa mencetak atau mencegah goal (tak akan bisa merubah apapun)
Perubahan hanya bisa dilakukan oleh para pemain (yg bergerak/berusaha/berjuang) bukan oleh penonton (yang diam)
Kemuliaan, keberhasilan, dan kesuksesan hanya didapat oleh mereka yang bermain (berkarya/bekerja keras) bukan oleh penonton (diam)
Pahala pun Allah berikan untuk mereka yang bermain (beramal) bukan yg menonton (diam)

Jadi apa yang kita pilih dalam hidup ini? Hanya menjadi penonton atau menjadi pemain yang berusaha memenangkan pertandingan?.
READ MORE - Euro 2012: Pemain VS Penonton

Minggu, 27 Mei 2012

Quality Time VS Quantity Time


"BERSAMA anak dan keluarga itu yang penting quality timenya bukan quantitynya”, kata seorang ibu-ibu publik figur yang sehari-harinya memang sibuk di luar rumah, syuting dan sebagainya. Ibu itu sedang mencoba menjelaskan pentingnya kualitas waktu, bukan jumlah waktu yang dihabiskan bersama anaknya. Dalam tayangan tersebut sang ibu sedang mengajak anaknya liburan di sebuah taman bermain.

Saya sejak dulu kurang setuju jika yang dimaksud dengan waktu berkualitas hanya sebatas waktu bermain seperti yang dilakukan si ibu itu. Mungkin ada benarnya jika yang dimaksud adalah kegiatan positif yang dilakukan orang tua bersama anaknya dalam rangka mendidik. Saya pribadi berpendapat, kualitas dan kuantitas kebersamaan, khususnya dengan anak, dua-duanya penting.

Menurut saya, keberadaan orang tua, khususnya sang ibu, dalam menanamkan nilai-nilai pada anak itu sangat penting. Saya ingat betul wejangan sang guru, “masa kanak-kanak adalah masa pembentukan untuk mengenal yang benar dan salah. Mereka ibarat kertas putih, torehan pertama kali ini sangat menentukan. Lalu dunia remaja adalah masa pancaroba. Harus betul-betul dijaga, terus menerus diingatkan biar ga lupa, masanya mereka sangat ingin diperhatikan, diakui, dijadikan sahabat.”

Dan sekarang, setelah sering 24 jam bersama anak-anak, saya merasa berada di dua posisi tersebut, sebagai anak sekaligus sebagai orang tua. Sebagai anak, saya tentunya telah melewati tahap apa yang sedang mereka rasakan sekarang. Sebagai orang tua, saya merasakan bagaimana membimbing para remaja melewati masa pancarobanya. Benar-benar harus hati-hati ketika ‘memvonis’ seorang anak ‘bandel’. karena kata ‘bandel’ sendiri sebenarnya umum. Ada anak-anak yang memang malas, ada juga yang sebenarnya bukan bandel tapi rasa ingin tahunya yang tinggi hingga dia melakukan hal-hal yang tidak dikerjakan teman-temannya. Yang lainnya lebih karena masa remaja adalah masa ingin diperhatikan.

Saya menemukan bahwa anak-anak yang dianggap “bandel” ini sebenarnya ingin mendapat perhatian lebih. Umumnya karena bermasalah dalam keluarganya, mulai dari orang tua yang sibuk, hingga masalah perceraian orang tua. Bahkan secara psikologi, anak-anak ini lebih senang dimarahi dari pada didiamkan. Walaupun tentu saja tidak semua kelakuan anak bisa dinisbatkan pada orang tuanya. Wallahu ‘alam
READ MORE - Quality Time VS Quantity Time

Minggu, 13 Mei 2012

Ibadah dan Akhlak 'Saling Bercermin'

SEBUAH korelasi yang indah antara firman Allah,“kami tidak mengutusmu (wahai muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam,” (Al-Anbiya:107) dengan sabda Rasul,“sungguh, Aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak” (HR imam malik,no.1723). Bayangkan jika kecurangan, tipu daya, dan kejahatan merajalela dalam masyarakat atau rasa benci, dendam, dan dengki meliputi sebuah keluarga, dimanakah rahmat itu berada? maka tidak ada rahmat bagi alam semesta kecuali dengan akhlak. Bahkan hasil dari ibadahpun seharusnya adalah untuk membenahi akhlak. Kalau tidak, maka ibadah tersebut hanya akan jadi semacam olah raga saja.

Allah berfirman,“Dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat mencegahmu dari perbuatan keji dan mungkar” (Al-Ankabut:45). Dalam hadist qudsi Allah juga berfirman,“Aku hanya menerima shalat dari orang yang dengannya ia tawadhuk pada keagunganKu, tidak menyakiti makhlukKu, berhenti bermaksiat padaKu, melewati siang dengan zikir padaKu, serta mengasihi fakir, orang yang sedang berjuang dijalanKu, para janda, dan orang yang tertimpa musibah.” Bukankah Allah sendiri yang mengajarkan agar ibadah (shalat) itu diikuti dengan perbaikan akhlak (tawadhuk dan kasih sayang)?. Subhanallah, jika selama ini shalat tidak membuat kita memiliki rasa kasih sayang terhadap sesama berarti shalat kita tidak menghasilkan buahnya secara sempurna.

Kemudian dalam surat At-Taubah ayat 103, allah berfirman, “ambillah zakat dari sebagian harta mereka untuk membersihkan dan menyucikan mereka”. Tujuan dari berzakat adalah Allah ingin mendidik akhlak yang baik pada manusia (menyucikan). Orang-orang yang berzakat akan belajar mengasihi dan bermurah hati. Lebih lanjut nabi bersabda,“senyummu dihadapan saudaramu adalah sedekah. Amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah sedekah, menunjukkan jalan untuk seseorang yang tersesat adalah sedekah, menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu adalah sedekah, menyingkirkan gangguan dijalan adalah sedekah, menuntun orang buta adalah sedekah, dan sedekah yang paling utama adalah sesuap makanan yang kau berikan pada istrimu.” (HR Muslim no. 2700 dan Ibn Majah no. 1691). Demikianlah ibadah mengalir menuju akhlak.

“Jika kalian sedang berpuasa, jangan berbuat kotor dan membentak. Jika dimaki atau diajak berkelahi, katakanlah ‘aku sedang berpuasa’.” Kata Nabi (HR Muslim). Nabi mengajarkan bahwa hari dimana kita sedang berpuasa adalah hari akhlak, hari dididik untuk tidak berbuat fasik, mencela, menyakiti, dan seterusnya.

Dan akhlak mencapai puncaknya dalam ibadah haji. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 197, “Haji adalah beberapa bulan yang telah diketahui. Siapa yang menetapkan niat dalam bulan itu untuk mengerjakan haji maka tidak boleh berbuat kotor, fasik, dan berbantah-bantahan dalam masa haji.” Saat melaksanakan haji kita akan tinggal disana selama beberapa hari dengan latihan pendisiplinan akhlak yang cukup berat. Kita tidak dibenarkan bersuara keras, tidak boleh memaki, mencela orang lain, apalagi menganiaya. Pesan puncak pendisiplinan akhlak disini sangat jelas, “wahai jama’ah, dalam kondisi yang sangat padat seperti itu, tunjukkanlah akhlakmu. Lalu saat engkau kembali setelah berlatih berakhlak baik dengan jutaan orang selama berhari-hari, bukankah layak engkau berbuat baik dengan orang tuamu, istri/suamimu, kerabat, dan tetanggamu?.”

Tujuan memperbaiki akhlak adalah untuk menghilangkan kesenjangan antara akhlak dan ibadah. Orang yang sangat amanah dan jujur tetapi tidak mengerjakan shalat atau sebaliknya seseorang yang sangat tekun beribadah tapi buruk akhlaknya, tidak dibenarkan dalam Islam. Rasul bersabda, “Demi allah tidak beriman, orang yang tetangganya merasa tidak aman dari keburukannya.” (HR muslim no.170). Jika ada wanita yang menjemur cucian yang masih basah lalu bekas airnya berjatuhan di atas cucian tetangga yang dibawahnya, maka ia terkena hadist ini apalagi yang lebih dari itu. Islam mengajarkan untuk tidak memisahkan antara agama dan akhlak. Sehingga tidak kita tidak menjadi orang yang ibadahnya mengagumkan tetapi akhlaknya sangat jauh dari Islam atau sebaliknya.

Rasulullah menambahkan, “Iman memiliki lebih dari 70 cabang, yang paling tinggi adalah mengucapkan laa ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dijalan.”(HR Bukhari no.9). Ya Allah.. jika menyingkirkan gangguan di jalan saja termasuk bagian dari iman, lalu bagaimana dengan kita membuang sampah atau sisa makanan dijalan? Apakah kita sempat berfikir bahwa sikap itu dapat melenyapkan sebagian iman?. Maha suci Allah, bahkan Islam menunjukkan hubungan yang erat antara iman dan akhlak.

Rasulullah juga bersabda,”Demi yang mengutus aku dengan hak, Allah tidak akan menyiksa orang yang mengasihi dan menyayangi anak yatim, berbicara kepadanya dengan lembut dan mengasihi keyatiman serta kelemahannya, dan tidak bersikap angkuh dengan apa yang Allah anugerahkan kepadanya terhadap tetangganya. Demi yang mengutus aku dengan hak, Allah tidak akan menerima sedekah seorang yang mempunyai kerabat keluarga yang membutuhkan santunannya sedang sedekah itu diberikan kepada orang lain. Demi yang jiwaku dalam genggamanNya, ketahuilah, Allah tidak akan memandangnya (memperhatikannya) kelak pada hari kiamat." (HR. Ath-Thabrani)

‘Ala Kulli Hal, niat memperbaiki akhlak haruslah untuk memperoleh cinta allah dan rasulNya. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasul, siapakah hamba yang paling dicintai Allah?” beliau menjawab, “Yang paling baik akhlaknya.” (HR Ibn Majah no. 3436). Dalam hadist lain, Rasul juga bersabda, “orang yang paling ku cintai dan yang paling dekat denganku adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR at-Tirmidzi no 2018). Adakah yang lebih tinggi dari cinta Allah dan rasulNya?.

Di antara doa Nabi adalah sebagai berikut,“Ya Allah, berikanlah aku petunjuk kepada akhlak yang paling baik, tidak ada yang bisa memberi petunjuk kepadanya kecuali Engkau.” Subhanallah, Rasulullah masih mengucapkan doa ini, padahal Allah berkata,“Engkau (Muhammad) sungguh mempunyai akhlak yang agung.”(Al-Qalam:4). Semoga kita juga diberi kemampuan untuk meneladani akhlak beliau, amin.

Diadaptasi dari Dr. Amr Khaled “Buku Pintar Akhlak”
READ MORE - Ibadah dan Akhlak 'Saling Bercermin'

Rabu, 02 Mei 2012

Identitas


SAAT seseorang terluka dipinggir jalan, orang-orang yang membantunya biasanya mencari identitas atau nomor yang bisa dihubungi agar bisa memberi tahu keluarga korban. di sisi lain, para polisi yang merazia kendaraan dijalan menahan beberapa orang yang tidak memiliki identitas. Ya..itulah identitas, hanya mereka yang memiliki identitaslah yang akan dikenal. Ketika mendengar kata Bali, misalnya kita mungkin membayangkan Pantai Kute atau budaya masyarakat Hindu. Jokja dikenal dengan seni dan keratonnya.

Lalu apa identitas kita sebagai muslim? Sebagai muslimah?. Tentu yang kita maksud disini bukan hanya apa yang terlihat, tapi identitas dalam berbusana muslimah sekaligus tercermin dalam akhlak. Namun identitas tersebut hari ini menjadi realita yang terlupa, atau mungkin sadar tapi telah melenceng jauh dari jalurnya. Anak-anak muda misalnya lebih gandrung berpenampilan ala Boy Band, padahal itu adalah identitas yang dibawa anak-anak muda Korea saat ini. Bukankah Rasul mengatakan, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”. (HR Abu Daud, no. 4031)

Allah berfirman,“Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (Al-Ahzab: 21). Ya ibadah yang beriringan dengan akhlak, itulah identitas muslim. Pembahasan tentang akhlak ini sangat luas, bukan hanya dengan sesama manusia tapi juga kepada seluruh alam. Bukankah Rasulullah diutus sebagai rahmat bagi alam semesta?. Kitalah sebagai muslim akan meneruskan tongkat estafet akhlak Nabi ini, agar dunia merasakan bahwa Islam benar-benar rahmatan lil ‘alamin.

Ketika saat ini Islam diidentikkan dengan kata kumuh, kotor, bodoh, dan miskin, jangan buru-buru menyalahkan mereka. Menurut saya, ini justru jadi suatu ‘cambuk’ introspeksi bagi diri kita sendiri. Siapa yang membuat identitas Islam buruk rupa? kita sendiri. Mungkin begitulah wajah Islam yang kita perkenalkan pada dunia. Kesadaran pada identitas yang Allah ingin kita tampilkan akan menuntun kita ke arah yang baik. Sadar bahwa kita manusia akan menuntun kita memanfaatkan berbagai karunia Allah untuk mengabdi padaNya dengan mengamalkan Al-Quran dan As-Sunnah.

Saya teringat, saat kuliah dulu kakak-kakak dan abang-abang sering sekali saling mengingatkan saat kumpul bersama di kampus, “jaga nama Aceh, apapun (baik atau buruk) yang kita lakukan di sini orang tak akan menyebut nama kita, mereka akan mengatakan itu anak Aceh.” Pesan tersebut membekas erat diingatan kami. Jika rasa ingin melindungi daerah tercinta saja bisa menjadi hijab agar tidak berbuat buruk, apalagi rasa takut dan malu pada allah? Wallahu ‘Alam

Ya rabb, sungguh saya takut, menyadari bahwa mungkin sayalah salah satu dari orang-orang yang membuat coreng di wajah Islam dengan kelakuan, perkataan, dan tingkah laku yang mungkin belum menunjukkan identitas agama rahmatan lil ‘alamin ini. :(

READ MORE - Identitas

Minggu, 29 April 2012

Ulat, Kepompong, Kupu-Kupu


UMAR bin Khattab dikenal sebagai seorang yang keras permusuhannya pada kaum Muslimin, taklid pada ajaran nenek moyangnya, dan melakukan perbuatan buruk yang umumnya dilakukan kaum jahiliyah. Beliau adalah orang yang paling ditakuti seluruh kaum Quraisy, kata-katanya tegas dan tajam, keberaniannya tak tertandingi. Suatu hari beliau keluar menghunus pedang dengan maksud untuk membunuh Muhammad. Dalam perjalanan beliau bertemu dengan dengan Nu`aim bin Abdullah al 'Adawi yang mengatakan bahwa adik perempuan Umar dan suaminya telah menjadi muslim. Umar marah dan bermaksud menyiksa mereka berdua. Namun saat beliau membaca surat Thaha, tersentuhlah hatinya. Beliau pun segera menemui Rasul dan seketika itu pula Umar bersyahadat.

Setelah menjadi muslim, selain pemberani, beliau adalah orang yang paling baik dan paling berilmu tentang al-Quran dan as-Sunnah setelah Abu Bakar. Kepemimpinan beliau adil, bijaksana, tegas, disegani, zuhud lagi wara’. serta selalu memperhatikan urusan kaum muslimin, Beliau berkata, ”Seandainya ada anak kambing yang mati di tepian sungai Eufrat, maka Umar merasa takut diminta pertanggung jawaban oleh Allah SWT.”

Seorang Umar yang lain juga punya kisah yang mengagumkan. Suatu hari, Umar bin Abdul Aziz memegang kain seharga 3 dirham dan berkata: “Ini terlalu halus untukku.” Seorang sahabat beliau yang menyaksikan kejadian tersebut terharu dan menitikkan air mata. Sahabat itu sambil menghela nafas berkata pada Umar, “Aku ingat saat engkau masih seorang pemuda di Madinah, saat itu kau menganggap ringan terlambat shalat berjamaah karena masih sibuk menyisir rambutmu. Dan kau pernah mengatakan bahwa kain seharga 3000 dirham terasa sangat kasar. Lihat dirimu sekarang, Kain seharga 3 dirham kau katakan terlalu halus.” Umar tersenyum, matanya berkaca-kaca.

Lalu siapa yang menyangka, seorang Shalahuddin Al-Ayyubi yang kita kenal sebagai pahlawan pembebas Al-Quds pada perang salib, ternyata dimasa mudanya adalah seorang melankolik yang sensitif dan gampang menitikkan air mata oleh hal-hal sepele, yang ngeri membayangkan darah, takut dengan luka, dan lebih suka bertamasya, tenggelam dalam hobi-hobinya, dan sering sakit-sakitan. Para sejarawan malah enggan menuliskan kisah masa muda beliau karena seolah membuat sejarah hidup beliau ternoda.

Adalah Dr. Majid ‘Irsan Al-Kilani yang mengisahkan masa muda Shalahuddin Al-Ayyubi ini, karena ingin menunjukkan bahwa Islam memang bisa mengubah sosok pribadi lembek menjadi pribadi pejuang, bahwa pemahaman aqidah yang benar dan kedekatan dengan Ilahi mampu menyusun ulang komposisi jiwa seseorang, dari seorang pengecut bisa menjadi pemberani, pecundang di masa lalupun tak kehilangan kesempatan untuk menjadi pahlawan di masa depan. Bahwa hidayah Allah diberikan kepada siapapun yang dikehendakiNya. Hingga tak pantas kita memandang tinggi diri dan merendahkan orang lain, apalagi menyangkut masa lalu seseorang. Alangkah berharganya kita mengaca diri tanpa menghakimi orang lain
-------------------------------------------------------------------------------------
Kita mungkin bertanya-tanya, apakah perilaku buruk bisa berubah menjadi lebih baik? Apakah orang yang bakhil bisa jadi dermawan? Apakah orang yang mudah marah bisa menjadi penyabar? dan lain-lain. Dalam hal ini, rasulullah bersabda, “ilmu diperoleh dengan belajar, sifat santun bisa diperoleh dengan upaya bersikap santun, dan sabar bisa diperoleh lewat upaya untuk bersabar.” (HR Bukhari, Fathul bari, 1/161). Rasul mengajarkan bahwa semua orang bisa berubah dengan upaya perbaikan. Kenyataannya ada puluhan orang yang telah berubah. Cinta, pengalaman, dan pemahaman telah merubah banyak orang.

Para sahabat telah membuktikan pada kita merekapun berubah indah dengan cahaya iman.
Masih banyak kisah-kisah para sahabat yang membuat kita terharu sekaligus kagum. Di masa kini juga banyak kisah mereka yang masa lalunya suram lalu mereka mendapat hidayah. Sebut saja Opick, Maher Zain, Yusuf Islam (Cat Steven), dan lain-lain. Berbahagialah mereka yang digerakkan oleh cinta kepada hidayah, Mereka yang tergerak di titik balik kehidupan, memulai kehidupan dari ulat, lalu kepompong, kemudian jadi kupu-kupu yang indah.

Kisah-kisah ini adalah pembelajaran untuk diri saya yang mungkin saat ini masih saja menjadi ulat, atau telah masuk dalam tahap perenungan seperti seekor kepompong, Lalu kapankah kita menjadi kupu-kupu yang memberi warna pada dunia, menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain?
READ MORE - Ulat, Kepompong, Kupu-Kupu

Minggu, 22 April 2012

Tawakkal


TAWAKKAL adalah pekerjaan hati, kepasrahan qalbu kepada Allah. Sementara fisik tetap menjalankan berbagai usaha. Allah tidak akan mengubah nasib seseorang sampai orang itu berusaha. Dia memerintahkan kita untuk memasuki berbagai pintu sampai masalah kita terpecahkan.

Ketika hijrah, Rasulullah sangat hati-hati menyusun beberapa rencana untuk keluar dari Mekkah dengan aman. Keluar rumah dipenghujung malam, lalu Ali bin Abi Thalib menggantikan posisi tidur beliau. Pergi ke rumah Abu Bakar di tengah hari. Kemudian menempuh jalur selatan, padahal Madinah berada di sebelah utara. Selanjutnya berhenti di gua Tsur selama tiga hari. Abdullah bin Abu Bakar datang memberi informasi tentang kaum Quraisy, dan Asma’ binti Abu Bakar yang sedang hamil datang membawa makanan dan minuman. Lalu untuk menghilangkan jejak, Abdullah bin Fuhairah membawa kambing-kambingnya setiap hari melewati jalan yang dilalui Asma’. Begitu matang perencanaan seorang yg bertawakkal kepada Allah.

Namun, bahkan dengan rencana sedemikian rupa, kaum Quraisy tetap bisa menyusul hingga berada tepat di pintu Gua. Abu Bakar berkata kepada Rasul, “Andai salah seorang dari mereka melihat ke bawah, pasti mereka melihat kita.” Rasul menjawab,”bagaimana pendapatmu dengan dua orang sedang yang ketiganya adalah Allah, jangan sedih, sungguh Allah bersama kita.”

Luar biasa, seolah Allah membiarkan keresahan mencapai puncaknya agar kekuasaanNya menjadi sangat jelas. Dia ingin kita mengerti makna tawakkal adalah berusaha dengan seluruh kekuatan fisik dan akal, membuka seluas-luasnya segala hal yang dapat memperbaiki hidup kita, sementara hati percaya bahwa tidak ada yang berkuasa memberi manfaat dan mudharat kecuali Allah. Kita berusaha meminta bantuan pada manusia, tapi pada waktu yang sama hati sadar bahwa yang memberikan solusi dari masalah kita adalah Allah, lalu kemudian dengan tulus kita mengucapkan, “hasbunallah wa nikmal wakil-cukuplah Allah sebagai penolong kami dan tempat bersandar terbaik-.” Wallahu ‘alam

*Buku Pintar Akhlak – Dr. Amr Khaled (Motivator Muslim Dunia)
READ MORE - Tawakkal

Minggu, 08 April 2012

Feel Like “Aktor Se-Dunia”


MENIKMATI kebersamaan bersama anak-anak, dengan beragam tingkah polah yang terkadang membuat kepala pusing sekaligus menggelikan. Saat mereka bercerita misalnya, ada yang membuat saya tertawa, beberapa pemikiran mereka ada yang menurutku aneh, beberapa diantaranya malah masalah kecil dan tak perlu ditangisi.

Tapi, saya menepuk dahi mengingat hal ini. Bukankah pemikiran saya juga terlihat aneh, bahkan masalah saya juga mungkin tak perlu di tangisi dalam pandangan orang yang lebih dewasa dari saya?. Tentu saja anak-anak ini menangis karena dalam usia dini menurut mereka masalah yang mereka hadapi itu ‘berat’. Sama saja kan?. Meski di antaranya ada juga beberapa kasus yang memang cukup serius untuk usia mereka.

Ah..Tanpa sadar, terkadang kita merasa kita sendirilah aktor di panggung dunia ini. Saat melihat album foto, wajah kitalah yang pertama kita cari. Dalam kehidupan sehari-hari, kita merasa cerita kitalah paling hebat, paling menarik, paling seru, paling sedih, paling menyakitkan, dan paling,,paling lainnya. Padahal kita bukan tokoh utama dalam dunia ini.

Dan padahal takdir setiap orang melesat dalam satu detik yang sama, apakah itu cerita sedih atau senang, bertemu atau berpisah, yang datang dan yang pergi, yang jelas semuanya menjalani ‘skenario’nya masing-masing persis di detik yang bersamaan. Sehingga sebenarnya tak ada aktor dan pemain figuran, karena semua manusia adalah aktor yang saling bertemu dengan aktor lainnya untuk melengkapi jalan cerita masing-masing. Aktor yang menjalani skenarionya masing-masing, yang pada dasarnya telah diberi pengarahan lengkap oleh ‘Sang Sutradara’.

Pada dasarnya Allah telah menunjukkan pada kita dua jalan, kebaikan dan keburukan. Dalam setiap detik kehidupan manusia, sesungguhnya manusia itu sedang diuji, apakah ia memilih jalan yang baik atau jalan yang buruk.
Dan Kami telah menunjukkan (manusia ) dua jalan (kebaikan dan keburukan)" (Al Balad:10)Dalam surat Al-Insan ayat 3, Allah kembali menegaskan:
“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.”

Tugas kita yang sebenarnya adalah menghamba padaNya dalam bentuk apapun. Sebagai pelajarkah, ibu rumah tanggakah, gurukah, pedagangkah. Dan Bahwa belajar adalah sarana, rumah adalah sarana, menikah adalah sarana, uang/harta/kekayaan hanyalah alat, segala hal yang ada di dunia ini bukanlah tujuan. Hanya alat dan sarana untuk mengabdi padaNya dalam bentuk apapun. Wallahu ‘alam
READ MORE - Feel Like “Aktor Se-Dunia”

Minggu, 25 Maret 2012

Berfikir besar, berjiwa besar


"SESUNGGUHNYA Allah tidak akan mengubah apa-apa yang ada pada suatu kaum, hingga mereka mengubah apa-apa yang ada pada diri (jiwa) mereka.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Seorang anak TK hanya menggambar warna hitam di kertas A3, seluruhnya hitam. Gurunya sampai heran, karena besoknya dia kembali melakukan hal yang sama dan ternyata di rumahnya pun anak ini terus saja menggambar warna hitam berlembar-lembar. Hari demi hari berlalu, si anak tetap melakukan hal yang sama. Orang tuanya yang mulai khawatir lalu membawanya ke psikiater. Tapi si anak tetap bekerja seperti kerasukan tanpa mengenal tempat dan waktu. Para ahli pun tak berhasil menemukan analisis apapun. Sampai akhirnya si anak tersenyum dan tertawa bangga melihat hasil karyanya. Dia telah berhasil menyelesaikan 400 gambar. Dan ternyata itu adalah sebuah puzzle ukuran 20x20 kertas A3 yang berbentuk paus bongkok tepat sesuai ukuran hewan aslinya. Ia berfikir besar.

Begitulah, mereka yang berfikir besar selalu punya visi bahkan melakukan hal yang berbeda dari orang kebayakan. Awalnya mereka tak difahami, dianggap aneh, bahkan harus diserahkan pada para psikiater. Tapi pada akhirnya orang-orang takjub padanya. Mungkin itu resiko orang-orang yang berfikir besar. Disalahfahami, lalu dikagumi.

Suatu hari Abdullah bin Abbas pernah membuat tercengang seorang penduduk Iraq yang jauh-jauh datang untuk menanyakan suatu masalah pada beliau. “Berikan padaku perkara-perkara besar, dan masalah-masalah kecil itu berikan saja pada orang lain.” Seorang ulama lain, Abdullah bin Umar, juga punya cara pandang yang sama persis dengan Ibnu Abbas ketika seseorang bertanya apakah darah nyamuk itu najis. Beliau berkata, “wahai umat Muhammad, coba lihat penduduk Iraq ini?! mereka bertanya tentang darah nyamuk padahal tangan mereka berlumuran darah cucu Rasulullah.”

Apakah jawaban ini sebuah bentuk kesombongan intelektual? Tentu saja bukan. Mereka sama-sama pernah berada dalam bimbingan Rasulullah. Hingga sikap mereka sama. Shalih dan ‘Alim. Hanya cara penyampaiannya saja yang sesuai karakter masing-masing. Kalimat Ibnu Abbas lebih lunak, sedangkan kalimat Ibnu Umar seperti ayah beliau, tajam.

Karena itu, tak perlu ikut-ikutan ketika orang-orang ramai membicarakan (bergosip) tentang seorang penyanyi yang heboh goyangannya, atau tentang orang-orang lainnya. Pembicaraan dan pendengaran kita harusnya diisi dengan hal-hal yang bernilai dan bermakna di sisi Allah. Jika pikiran dan jiwa kita tidak diisi dengan visi-visi besar, maka hal-hal tak bermakna akan mengisi penuh ruang yang terbentang di antara mata dan hati tersebut. Lalu kita hanya bernyanyi lirih, melangkolik, dan putus asa.
Wallahu 'Alam

Diadaptasi dari buku “jalan cinta para pejuang” – Salim A. Fillah
READ MORE - Berfikir besar, berjiwa besar

Minggu, 11 Maret 2012

Menggali Makna Sukses


APA sebenarnya kesuksesan itu?
Menurut saya arti kesuksesan itu relatif, tergantung dari perspektif mana seseorang itu melihat. Ada yang beranggapan bahwa sukses itu adalah jabatan yang tinggi, sebagian yang lain mengatakan sukses itu menjadi pegawai negeri, ada juga yang menilai kesuksesan berdasarkan seberapa banyak materi yang diperoleh atau berdasarkan tingginya pendidikan yang diperoleh, dan lain-lain.

Saya pribadi lebih suka mendefinisikan sukses dari beberapa perkataan Rasul yang mulia.
Pertama, hadits yang berbunyi, “Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain"(HR. Bukhari).

Kata sukses bukanlah akhir. Sukses tidak berhenti pada pencapaian jabatan yang tinggi, sekolah di luar negeri, atau harta yang banyak. Sukses berarti seberapa banyak orang lain membutuhkan kita, seberapa banyak kita memberi dan bermanfaat untuk orang lain dalam bentuk apapun itu, segala perbuatan baik adalah ibadah jika diniatkan karena allah. bisa dalam bentuk harta, ilmu, tenaga, atau pikiran. Sukses bisa berbentuk ilmu yang diamalkan bagi kemaslahatan umat, bisa berupa seorang ibu yang sukses mendidik anak-anaknya mengenal rabbnya sejak dini dan mengurus keluarganya dengan baik. Sukses adalah ketika ilmu, amal, ibadah, dan akhlaknya sejalan.

Kedua, sabda Rasul bahwa orang yang benar adalah, "Apabila dia berbuat salah segera bertaubat, kembali kepada jalan yang benar.” Bahwa rumah yang bersih bukalah yang tak pernah kotor, tapi ketika kotor segera di bersihkan kembali. Orang yang baik bukanlah orang yang tak pernah melakukan kesalahan, mereka adalah orang-orang yang mengendalikan diri dari perbuatan yang terlarang. Namun ketika berbuat salah, ia segera memperbaiki diri.

Rasulullah s.a.w bersabda: Bertakwalah kepada Allah di manapun kamu berada. Dan iringilah akhlak buruk dengan akhlak baik niscaya ia akan menghapuskan. Dan bergaullah bersama manusia dengan akhlak yang baik. (Hadith Riwayat Athtirmidzi dan Ahmad). Allah selalu memberi kesempatan pada hambaNya yang ingin kembali, Setiap hari adalah kesempatan bagi kita untuk sukses.

Maka sukses adalah kumpulan perbaikan diri dan pengembangan kepribadian yang kita lakukan setiap hari. Sukses bisa berarti orang yang hari ini kembali bangkit setelah kemarin merasa gagal, sukses mengelola kepribadian dan emosinya. Sukses bisa berarti berhasil melatih pikiran dan perasaan menjauhkan diri dari belenggu prasangka buruk. Sukses bisa berarti peningkatan keilmuan, ibadah, disiplin, kerja keras, dan akhlak menjadi lebih baik.

Ketiga, Rasulullah bersabda, “Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang selalu mengevaluasi dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.” (HR. Turmudzi)

Pada akhirnya, pemberhentian kita paling akhir di dunia ini adalah kematian. Maka bagi seorang mukmin puncak yang harus diraih adalah bagaimana ia mempersiapkan kematian. Maka sukses sejatinya bagi mereka yang mempersiapkan bekal sebaik-baiknya ketika hidup, mempersiapkan bekal amal-amal yang tidak putus meski nafas terakhir telah berhembus dari hidungnya, yang meninggalkan dunia ini dengan husnul khatimah. Merekalah yang Rasul sebut sebagai ‘orang yang cerdas’ orang-orang yang sukses dunia akhirat.

Tentunya setiap orang berhak memilih dari sudut pandang mana mereka menilai kesuksesan. Wallahu ‘Alam

*Sebuah renungan, apakah saya telah memaknai sukses tersebut dengan baik?
READ MORE - Menggali Makna Sukses

Minggu, 04 Maret 2012

Berfikir Positif


"KALAU bangkai masih di dalam ruangan, meski kau tuang sebotol minyak wangi pun baunya tak akan hilang. Usapkan minyak wangi itu di hidungmu, maka seluruh dunia akan wangi”, tiba-tiba saja saya teringat kalimat yang pernah saya dengar dari seseorang di masa kecil saya ini.

Di dunia ini banyak sekali hal yang tidak kita tahu, apalagi tentang yang dilangit. Satu-satunya yang bisa kita kendalikan adalah diri kita sendiri. Kita mungkin tak punya banyak botol minyak wangi, tapi kita bisa mengusapkan minyak wangi tersebut dihidung kita sendiri, agar kemanapun kita pergi, seluruh dunia menjadi wangi. Kita mungkin tak bisa merubah wajah dunia, tapi kita bisa memilih apa yang kita fikirkan setiap hari. Kita tak mungkin bisa mengendalikan orang lain, tapi kita bisa mengendalikan diri kita sendiri.

Kita mungkin tak bisa merubah masa lalu kita, tapi kita bisa melatih hati kita sendiri untuk memaknainya dengan benar. Kebahagiaan hakiki datang dari kedalaman hati. Semakin dangkal ia semakin mudah keruh. Harta, jabatan, pekerjaan, keberuntungan, dan semua yang datang dari luar tak akan abadi. Begitu hilang, hilang pula kebahagiaan. Sebaliknya rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, nasib buruk juga datang dari luar. Ketika kesedihan itu datang, hati saya yang dangkal langsung keruh berkepanjangan. Allah memberikan masalah/ujian agar manusia bekerja keras memaksa hati terus berlatih membeningkan mata airnya, meski tidak mudah.

Tak ada yang kebetulan atau sia-sia. Baik-buruk tidak selalu seperti yang terlihat. Kesedihan dan kemunduran tidak selamanya buruk, terkadang ia menjadi dorongan untuk maju. Sebaliknya selalu berada dalam kesenangan dan kemudahan belum tentu baik, kita jadi tdk siap dengan cobaan, ibarat gelas panas ketika tiba-tiba dituang air dingin akan langsung pecah. Allah menciptakan segala sesuatunya seimbang, kesenangan dan kesedihan ada agar jiwa manusia seimbang. Semua ketentuan Allah adalah baik. Pengetahuan kitalah yang terbatas, sehingga kadang tidak mampu menangkap makna yang disampaikan Ilahi dengan sangat halus atau bahkan tersirat.
Wallahu ‘alam
READ MORE - Berfikir Positif

Sabtu, 03 Maret 2012

Cinta Karena Allah


CINTA karena allah adalah kebebasan dan keabadian, jauh dari prasangka serta keinginan untuk dipuja dan dipuji. Sedangkan cinta karena keinginan atau tujuan selain Allah akan hilang dengan hilangnya tujuan tersebut. Misalnya, seorang karyawan yang menghormati atasannya karena alasan pekerjaan, setelah atasannya pensiun dia tidak lagi memperhatikan atasan tersebut.

Ibnu Qayyim dalam kitab Zaadul Ma’ad mengatakan, “cinta untuk mencapai tujuan tertentu dari orang yang dicintainya, seperti kedudukan atau hartanya, akan lenyap seiring dengan lenyapnya tujuan itu. Sungguh, siapa saja yang mencintaimu karena suatu keperluan, maka ia akan berpaling darimu jika telah tercapai keinginannya”.

Dalam Majmu ’Fatawa, Ibnu Taimiyah menerangkankan bahwa,“Jiwa manusia diberi naluri untuk mencintai orang yang berbuat baik kepadanya, namun hakikatnya kecintaan itu adalah kepada kebaikan, bukan kepada orang yang telah berbuat baik. Ketika orang yang berbuat baik itu memutuskan perbuatan baiknya, maka kecintaannya akan melemah, bahkan bisa berbalik menjadi kebencian. Maka kecintaan seperti ini bukan karena Allah.”

Kita belajar dari kisah Salman Al-Farisi, suatu hari beliau meminta sahabatnya Abu Darda’ untuk melamar seorang wanita Anshar untuk dirinya. Ternyata sang wanita menolak Salman dan malah memilih Abu Darda’. Tapi reaksi Salman sungguh luar biasa, “Allahu Akbar,” serunya, “semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan akan aku serahkan pada Abu Darda’ dan aku akan menjadi saksi pernikahan ini.”

Luar biasa, bayangkan cinta dan persaudaraan berebut posisi dihati, belum lagi rasa malu karena lamarannya ditolak. Tapi seorang Salman benar-benar mampu mengamalkan sabda rasul sampai pada tingkat yang melewati perasaannya sendiri, bahwa “tidak sempurna iman seseorang sampai dia mencintai saudaranya melebihi kecintaannya pada dirinya sendiri.” Kisah Salman telah menunjukkan bahwa cinta karena Allah mampu melampaui batas perasaan suka dan tidak.

Cinta karena Allah berbanding lurus dengan ketakwaan. Semakin dekat seseorang dengan Allah, semakin mudah ia mencintai orang lain karena Allah. Meski kebaikan, pertolongan, dan pemberian orang tersebut hilang, maka sama sekali tak memberi pengaruh apapun pada kecintaannya. Keinginan dicintai Allah justru mendominasi, bahwa barang siapa yang ingin dicintai Allah dan Rasul, maka berbuat baik pada manusia karena Allah. Suatu hari para sahabat bertanya,”wahai Rasul, siapa hamba yang paling dicintai Allah?,” Beliau menjawab,”yang paling baik akhlaknya pada manusia.” (HR Ahmad)

Bagi kita, kecintaan seperti ini mungkin tidak mudah, perlu latihan terus menerus. Memperbaharui niat selalu, ketika niat melenceng maka segera perbaiki niat karena Allah. Karena niat dan tujuanlah yang kemudian menguatkan kita. Wallahu ‘Alam.
READ MORE - Cinta Karena Allah

Rabu, 22 Februari 2012

Tak Ada Yang Kebetulan atau Sia-Sia


SUGGUH tak ada yang kebetulan atau sia-sia di dunia ini. Setangkai daun kering yang jatuh, Allah mengetahuinya. Seekor semut hitam di atas batu hitam di tengah malam kelam di hutan yang paling jauh pun tak luput dari perhatianNya. Hewan-hewan kecil yang hanya bisa dilihat dengan mikroskop khusus, Allah jua yang memberi mereka rezeki.

Allah mungkin telah banyak memberikan kita ujian kesabaran, kekurangan, dan kelaparan yang saat itu kita bisa melewati semuanya. Hingga tanpa sadar kita merasa telah bisa mengatasi semua masalah dengan baik, merasa telah dapat mengatur segala apa yang ada pada diri kita, hati dan pikiran kita dengan benar. Padahal pantang bagi kita merasa telah berbuat baik, karena dapat melalaikan serta membuat kita tak merasa perlu berbuat lebih baik dan lebih baik lagi.

Lalu allah mengirimkan ujian yang langsung membidik hati, kita jatuh tersungkur bahkan hampir tak bisa bangkit lagi. Saat itu baru kita sadar bahwa mungkin selama ini kita telah sombong dengan menganggap semua masalah bisa kita atasi. Bahwa ada yang salah dengan menajemen hati yang kita anggap baik-baik saja. “kita lemah karena posisi jiwa kita salah,” tulis Anis Matta dalam serial cintanya. Tanpa disadari, mungkin telah lama jiwa ini rapuh, telah lama hati ini dangkal, sehingga ketika kesedihan datang, ia langsung keruh berkepanjangan. Telah lama kita terlena dengan sangka-sangka.

Berterima kasihlah pada Allah yang telah membuat hati kita terbuka. Seolah Dia ingin mengatakan, “menangislah sekali waktu agar hatimu tidak keras.” Kita menangis dan tersungkur penuh penyesalan dihadapanNya. Tanpa skenarionya, kita ini semu..tiada daya dan upaya.

Mari berbaik sangka padaNya,
Sungguh adalah tanda kasih sayangNya ketika Allah masih mau mengingatkan. Seperti para sahabat yang justru was-was saat Allah tak memberi ujian, karena takut Allah tak lagi peduli dan membiarkan kita terus berbuat salah.

Jangan bersedih, Sungguh tak ada yang sia-sia, tak ada yang kebetulan. Ketidaktahuanlah yang membuat kita menilai sesuatu itu baik atau buruk, beruntung atau tidak. Dalam setiap ujian dan masalah, bukankah Allah telah berjanji bahwa kesusahan selalu datang bersama kemudahan dan bahwa rasa sakit hanya ditimpakan pada mereka yang mampu?. Jika allah saja begitu husnudzan pada kita, maka seharusnya kita pun berbaik sangka padaNya dan pada diri sendiri.

Tak ada makhluk yang diciptakan tanpa arti didunia ini. Tak ada takdir yang kebetulan dan sia-sia, bahkan takdir pertemuan dan perpisahan setiap manusiapun ada dalam rahmatNya. Tak ada kebaikan yang percuma. Tak ada perjuangan yang tak berhasil, setidaknya di mata Allah.

Berbaik sangkalah pada allah, agar mudah berprasangka baik pada hambaNya.
Wallahu ‘Alam.
READ MORE - Tak Ada Yang Kebetulan atau Sia-Sia

Sabtu, 18 Februari 2012

Menanam Bibit Empati


SESEORANG pernah mengatakan pada saat saya sebuah kalimat yang tak pernah saya lupakan sampai hari ini, beliau bilang “coba kamu berada di posisi saya saat ini.” Saat pertama dengar kalimat itu saya ndak ngerti, saya malah menerjemahkannya sebagai “apa yang mungkin saya lakukan jika berada diposisi beliau”. Maka dengan bodohnya saya menjawab hal-hal yang akan saya lakukan, meskipun saat itu niat saya adalah untuk menyemangati.

Tapi kemudian saya sadar, kalimat ini bermakna sangat dalam, bermakna rasa bukan laku. Seseorang tersebut sedang meminta saya merasakan apa yang dirasa dan bukan bertanya apa yang akan saya lakukan. Kalimat ini adalah pelajaran tentang empati.

EMPATI adalah memahami apa yang dirasakan orang lain, meski kita tidak berada diposisi mereka. Pertanyaanya, bisakah orang yang cuek berubah menjadi mudah berempati? Bisa saja kalau kita benar-benar yakin dan mau usaha, tentu saja bisa. pada dasarnya setiap orang punya rasa empati dalam dirinya, hanya terkadang tidak diasah dengan baik. Memang tidak mudah, tapi sulit bukan berarti tidak bisa. Dengan terus melatih diri, keterampilan berempati akan segera menjadi karakter.

Memahami dan mengerti diri sendiri lebih dahulu sebelum menilai orang lain, mengamati/memahami apa yang terjadi dalam pikiran dan perasaan sendiri, sebelum melihat orang lain adalah langkah awal agar mudah berempati. Kenali diri sendiri, apa saja yang membuat kita marah, sedih, senang, dan hal lainnya sehingga kita bisa mengendalikannya dengan baik dan tidak melakukannya pada orang lain lagi. Jika kita saja tidak bisa memahami apa yang terjadi pada diri sendiri dengan segala perubahannya, bagaimana mungkin kita bisa memahami orang lain. Tidak mungkin bisa mengerti orang lain kalau tidak bisa mengerti diri sendiri.

Berbagai peristiwa dan pengalaman yang telah kita lalui juga menjadi modal untuk melatih rasa empati. Harus kita pahami, bahwa tidak semua peristiwa yang terjadi pada kita akan terjadi juga pada orang lain dan sebaliknya tidak semua hal yang orang lain alami akan terjadi juga pada diri kita. Pengalaman mungkin menjadi acuan tapi tak selalu menjadi rujukan. Wallahu ‘Alam

“coba bayangkan kalau kamu yang berada diposisi mereka,”. Dimulai dari kalimat ini saya ingin mengajarkan dan menamankan rasa empati pada anak-anak.
READ MORE - Menanam Bibit Empati

Kamis, 09 Februari 2012

Let It Flow

SAAT semua orang mengkritik bahkan menjatuhkan. Dengarkan, kritikan adalah nasehat yang paling tulus.

Saat kita kehilangan orang-orang yang kita sayangi. Yakinlah, mereka tak pernah pergi, selalu ada dalam hati kita.

Saat banyak kesalahan yang kita sesali dan tak bisa kita lupakan. Let it Flow, nikmati segala sesuatu yang terjadi dalam diri kita, perubahan dalam diri sendiri.

Saat sabar menunggu dan pada akhirnya harus luruh seperti selembar daun kering. Let it flow, bersabar juga berarti bersiap melapangkan jalan setulus hati pada segala takdir yang telah Allah tetapkan.

Ketika seolah tak ada celah, tak ada lagi solusi. Let it flow, rintangan bukanlah kegagalan, ia adalah sepercik harapan yang telah lama dinanti.

Dalam keadaan tertentu, saat banyak hal yang tak terlupa namun kita tak tahu harus berbuat apa, maka saat itu mungkin adalah saat dimana kita hanya harus tetap mengalir apa adanya, hanya mengalir,, Just Let It Flow,,,

Yakinlah, Allah tidak akan membebani hamba diluar kemampuannya. Masalah, ujian, dan cobaan hanya diberikan pada mereka yang mampu. Kalau Allah saja percaya pada kemampuan kita, maka percayalah pada diri sendiri dan berbaik sangkalah padaNya, agar mudah berprasangka baik pada semua makhlukNya.

Wallahu ‘Alam
READ MORE - Let It Flow

Rabu, 01 Februari 2012

Lembar Baru


SETIAP hari Allah memberi kita lembar kehidupan baru, lembar putih yang siap kita isi lagi dengan catatan amalan kita, baikkah, burukkah, atau sama saja seperti hari kemarin. Setiap hari adalah sebuah pembelajaran baru serta kesempatan untuk memperbaiki diri. Kita diberikan kesempatan menjadi lebih baik setiap harinya. Rasulullah mengatakan bahwa jika hari ini kita lebih baik dari kemarin, berarti kita termasuk orang yang beruntung, akan tetapi jika hari ini kita sama dengan kemarin kita termasuk orang yang merugi. Dan lebih gawatnya lagi kalau hari ini lebih buruk dari kemarin kita termasuk orang yang dilaknat Allah.

Namun, Allah selalu memberi kita kesempatan untuk mengevaluasi diri (muhasabah) setiap harinya. Dalam firmanNya, “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu sekalian kepada Allah, dan hendaklah setiap diri, mengevaluasi kembali apa yang telah dilakukan untuk menata hari esok, dan bertakwalah kamu sekalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan”(QS: Al-Hasyr , 59). Ada begitu banyak alasan untuk bersyukur di setiap lembar baru yang diberikan. Mengupayakan yang lebih baik adalah sikap mensyukuri apapun yang telah ada pada diri kita.

Bersyukur, karena hari ini saya masih bisa menghirup udara segar, masih merasakan hangatnya matahari, angin berhembus sepoi, burung-burung berkicau merdu. Bersyukur karena hari ini masih bisa melihat anak-anak belajar, mendengar mereka mengaji dan menghafal alquran, mendengar cerita-cerita mereka, bahkan beberapa diantaranya menjadi pembelajaran untuk diri saya sendiri. Subhanallah, ternyata hari saja ada banyak sekali hal yang patut syukuri, apalagi hari-hari sebelumnya dan hari-hari yang akan datang. Sungguh Engkau belum pernah memberi kami alasan untuk tidak bersyukur padaMu.

Betapa perlunya kita mengalokasikan hati, pikiran, waktu serta kelapangan dada untuk mau meneladani para Rasul, para sahabat, serta menggugah diri kita sendiri yang mungkin sudah terlalu lama ‘terbuai’ oleh daya pikat duniawi dan tipuan hawa.

Ya Rabb, maafkan kami karena sering kali tidak bersyukur pada hal-hal yang seolah kecil karena telah terbiasa. Nafas yang setiap detik kita hirup, makanan yang dihidangkan oleh sang ibu setiap hari, air yang kita minum setiap hari, nikmat iman, Islam, kesehatan, rizki, dan kehadiran orang-orang tercinta dalam hidup. Tapi kami sering terlupa.

Padahal, meski seluruh laut di dunia ini dikeringkan dan dijadikan tinta, tak akan pernah cukup untuk menuliskan nikmatNya. “Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’” (QS. Ibrahim [14]: 7)

Terima kasih, ya Allah untuk setiap pembelajaran di setiap lembar baru.
READ MORE - Lembar Baru

Selasa, 24 Januari 2012

Synchronizing Perkataan dan Perbuatan

STATUS QUO. Tak bisa tidur setiap kali teringat kata-kata “ga sesuai kata-kata dengan perbuatan”. Ya allah, seperti itukah saya? Ah..mungkin memang benar. Baiklah, dengarkan penilaian orang lain, karena kita memang tak bisa menilai diri sendiri. Paradox sering membuat kita tak singkron.

Ya..Paradox berarti dua hal yang bertolak belakang yang kadang memunculkan perasaan la>ngit dan bumi secara bersamaan. Ketika kita tidak ingin melakukan sesuatu tapi kemudian malah kita lakukan, atau sebaliknya. Saat tak mau berlebihan misalnya, tapi ternyata kita berlebihan.

Paradox juga hadir saat kita terlalu fokus pada hasil, bukan pada proses. Hingga sebelum proses itu selesai kita sudah kehabisan energi. Padahal proses bisa jadi panjang, bisa juga lebih cepat dari yang kita bayangkan.

Paradox dalam diri tersebut kadang membuat kita merasa lelah bukan karena apa yang terjadi di luar sana, tapi karena ‘perang’ di dalam diri kita sendiri. Di satu sisi pikiran sadar kita ingin, tetapi di sisi lain kita merasa tidak mampu dan minder. Kemudian terjadilah ketidaksingkronan antara pikiran dan perasaan atau perkataan dan perbuatan kita.

Dan dualisme in paradox ini membuat saya merasa begitu bersalah pada seseorang, tak sanggup rasanya bertemu orang tersebut, malu kelas kakap, malu dan menyesal.

Lalu bagaimana dengan Allah? bukankah setidaknya lima kali sehari kita mengucapkan, “inna shalati, wanusuki, wamahyaya, wamamati, lillahirabbil 'alamin” (sesungguhnya sholatku, sesembahanku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah penguasa semesta alam)?

Sudah singkronkah perkataan dengan perbuatan kita? Bagaimana kalau shalat kita masih malas-malasan, puasa kita masih sekedar menahan lapar, sedekah kita masih ingin dipuji orang, bacaan Al-Quran tapi tak pernah kita amalkan? Bagaimana setiap kali kita melanggar hukum dan larangan Allah?

Sungguh apa yang kita berikan kepada Allah masih main-main, sama sekali tidak sebanding dengan apa yang Allah berikan pada kita. Terlalu banyak ketidaksingkronan kata dengan amal kita dihadapanNya. “hidup dan matiku untuk Allah”, benarkah? Apa yang sudah kita berikan untuk Allah?

* Menutup muka dengan tangan, menangis tertahan.. Malu dan Menyesal
READ MORE - Synchronizing Perkataan dan Perbuatan

Sabtu, 21 Januari 2012

Allah Menyayangi Kita


PERNAHKAN kita merasa seperti punya tempat bersandar atau menemukan tempat yang sangat rindang setelah sekian lama berjalan sendirian diterik matahari?. Namun, saat kita sedang berteduh sambil menikmati semilir angin, tiba-tiba saja ia hilang. Apa yang kita harapkan tiba-tiba pergi seperti fatamorgana di tengah padang pasir. Kita menjadi bingung, sedih, bahkan stress. Sehingga keadaan menjadi lebih buruk lagi.

Tapi kemudian kita sadar bahwa tak ada yang abadi. Kehilangan membuat kita mengerti bahwa meski sangat kita sayangi, suatu saat semua yang kita miliki akan pergi, bahkan yang melekat pada diri kita. Suatu saat kita akan terputus dengan dunia ini, kecuali tiga hal: amal jariah, anak shaleh yang mendoakan, dan ilmu yang bermanfaat. Saat kesedihan memuncak, seolah Allah ingin memperlihatkan bahwa kita tak memiliki sandaran lain kecuali Dia saja. Saat dunia terasa gelap, saat semua pintu seolah tertutup, ketika tidak ada lagi yang bisa menolong kita, yang tinggal hanya Allah. Ia tak akan kemana-mana, selalu menjaga kita. Tak ada pintu pertolongan lain selain pintuNya.

Andai saya tak buta hati dahulu, mungkin sejak lama sudah mengerti tentang arti sebuah keyakinan (iman) dalam diri. Bahwa kematangan dan kedewasaan kita dalam hidup ini, sangat dipengaruhi oleh keimanan. Saat terjatuh kemudian putus asa dan seolah tak bisa bangkit lagi, lalu di mana iman yang selama ini kita dengung-dengungkan?. Bukankah dalam setiap cobaan sebenarnya adalah ujian iman, sejauh mana kita percaya (beriman) bahwa Allah adalah al-wakil, bahwa allah tak mungkin mendhalimi hamba, bahwa tak ada yang sia-sia dan kebetulan dalam takdir pertemuan dan perpisahan setiap makhluk.

Betapa pentingnya kita menjernihkan mata hati dan berbaik sangka padaNya dalam kondisi apapun. Ketika Allah belum juga mengabulkan doa-doa kita misalnya, mungkin Dia ingin kita mempersiapkan diri lebih matang, mungkin masih ada hal yang harus kita lakukan untuk orang lain. Dan Allah sangat senang melihat hambaNya menangis dalam doa, Sebuah hadits yang riwayatkan oleh imam al-Baihaqi dari sahabat Anas bin Malik RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: bahwasanya Jibril AS kasihan melihat seseorang yang bolak-balik dalam doanya, sehingga ia berkata kepada Allah SWT, "Ya Rabb, hamba-Mu si Fulan itu sudah sekian lama berdoa, tetapi belum juga Engkau kabulkan. Perkenankanlah wahai Tuhan permintaannya." Allah SWT pun menjawab, "(sudah) Biarkan saja hamba-Ku (itu). Tundalah dulu permintaannya. Sesungguhnya Aku amat senang mendengar suaranya (saat bermunajat kepada-Ku)."

Allah juga mengatakan,”Katakanlah, Hai hamba-hambaKu yang melampui batas terhadap diri sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. az-Zumar : 53).
READ MORE - Allah Menyayangi Kita

Jumat, 13 Januari 2012

Membelenggu Prasangka Buruk

"JANGAN terlalu berperasaan” kata seseorang pada saya waktu itu. Saat itu saya berfikir, "apa salahnya, bukankah para wanita memang secara umum sering menggunakan perasaannya?". Itu pikiran saya dulu. Tapi saat saya menerjemahkan kata-kata itu menjadi “jangan berprasangka”, tiba-tiba saja saya jadi sangat tertarik untuk memahaminya.

Dan ternyata Allah dan Rasul telah mengajarkan tentang ini.Rasulullah bersabda, ”Hati-hati kalian dari persangkaan yang buruk (zhan) karena zhan itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mendengarkan ucapan orang lain dalam keadaan mereka tidak suka. Janganlah kalian mencari-cari cela orang lain. Jangan kalian berlomba-lomba untuk menguasai sesuatu. Janganlah kalian saling hasad, saling benci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang Dia perintahkan." (HR. ِAl-Bukhari no. 6066 dan Muslim no. 6482)

Nampaknya penelitian yang dilakukan oleh Deepak Chopra turut menguatkan hadist di atas. Beliau mengatakan, bahwa pikiran dan perasaan manusia cenderung mengarah kepada hal-hal negatif. Setiap hari selama 24 jam, manusia menghasilkan 55.000 sampai 65.000 buah pikiran dan 80 % - 90.5% cenderung negatif. Lalu bagaimana dalam seminggu, sebulan, setahun???.

Allah Sang Khalik tentu sangat tahu karakter manusia ini. Karena itulah Allah telah mewanti-wanti kita agar menjauhi sebagian prasangka, dalam firmannya, “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan (zhan) karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa.” (Al-Hujurat: 12)

Salah seorang sahabat saya bilang, “kalau terbersit prasangka buruk, fikirkanlah 77 kemungkinan. Karena sebelum sampai ke 77 kemungkinan tersebut, kita sudah tersenyum dengan tulus. Ketika ingin marah, ingatlah kebaikan-kebaikannya, maka kita tidak akan sanggup untuk marah padanya. Kalau kita mau hanya fokus pada kebaikannya, maka seburuk-buruknya setiap manusia, pasti akan kita temukan sifat baiknya.”

Pelajaran dari ini cukup mujarab ketika suatu hari, seorang anak datang pada saya dengan air mata berlinang dan mengatakan bahwa tak ada teman-teman yang memperdulikannya. Saya mengatakan padanya logika yang sama, “Nak,, jangan buru-buru menyalahkan orang lain. Pertama, mungkin kita pernah bersikap sama pada seseorang, jadi allah tegur kita melalui orang lain. Kedua, mungkin tanpa sadar kita menjadikan diri kita sebagai cermin untuk sikap orang lain, padahal selama ini justru kita yang sering bersikap cuek dan tidak peduli pada teman. Sama saja saat kita merasa orang lain sinis, mungkin kita yang sering begitu hingga kita merasa cara dia memandang itu sinis, dan padahal mungkin matanya emang lagi sakit. Jangan buru-buru menilai orang lain, itu berprasangka”. Alhamdulillah, anak ini berhenti menangis, mungkin dia setuju dengan apa yang saya katakan. :)

* Terima Kasih Sang Safra, untuk semua hal…:)
READ MORE - Membelenggu Prasangka Buruk